Sholat Tarawih dan Witir Rasulullah

Kehadiran bulan Ramadhan selalu disambut dengan penuh suka cita oleh umat Islam di seluruh dunia. Setiap orang akan berlomba-lomba mencuri perhatian ALLAH SWT agar mendapatkan berkah dan kemuliaan bulan Ramadhan. Di siang hari umat Islam berpuasa, sedangkan di malam hari kita berbondong-bondong ke mesjid untuk melaksanakan sholat tarawih. Di Indonesia ada sebagian umat yang melaksanakan sholat tarawih sebanyak 11 rakaat dan sebagian umat yang lain mengerjakan sejumlah 23 rakaat. Dalam pelaksanaannya pun ada yang 2 rakaat dengan sekali salam atau 4 rakaat sekali salam.

Bagaimana sebenarnya sholat tarawih yang dikerjakan Nabi Muhammad SAW? Kita bisa menemukan jawabannya dalam kitab “Qiyamu Ramadhan” karya Syaikh Muhammad Nashiruddin al Albani. Kitab ini sudah diterjemahkan ke bahasa Indonesia oleh Al-Ustadz Qomar Su’aididengan dengan judul “Shalat Tarawih Bersama Rasulullah Shallallahu‘alaihi wa sallam”, yang diterbitkan oleh Cahaya Tauhid Press.

Kita bisa membacanya secara online di sini untuk versi lengkapnya dan di sini untuk versi ringkasnya. Kalo ingin mengunduh dalam format PDF untuk yang versi ringkasnya silakan klik Sholat Tarawih, Qunut, dan Witir Rasulullah seperti dibawah ini

=========

Ringkasan Ragam Sholat Tarawih & Qunut Witir Rasulullah
Penulis: Syaikh Muhammad Nashiruddin al Albani

Saya (Syaikh Al-Albani) telah menjelaskan perinciannya dalam kitab saya yang lain “Shalat Tarawih” (hal.101-105), kemudian saya disini hendak meringkasnya untuk mempermudah pembaca dan sebagai peringatan.

Cara Pertama
Shalat 13 rakaat yang dibuka dengan 2 rakaat yang ringan atau yang pendek, 2 rakaat itu menurut pendapat yang kuat adalah shalat sunnah ba’diyah Isya’. Atau 2 rakaat yang dikhususkan untuk membuka shalat malam, kemudian 2 rakaat panjang sekali, kemudian 2 rakaat kurang dari itu, kemudian 2 rakaat kurang dari sebelumnya, kemudian 2 rakaat kurang dari sebelumnya, kemudian 2 rakaat kurang dari sebelumnya, kemudian witir 1 kali.

Cara Kedua
Shalat 13 rakaat diantaranya 8 rakaat salam pada setiap 2 rakaat kemudian melakukan witir 5 rakaat tidak duduk dan salam kecuali pada rakaat kelima.

Cara Ketiga
Shalat 11 rakaat, salam pada setiap 2 rakaat dan witir 1 rakaat.

Cara Keempat
Shalat 11 rakaat, shalat 4 rakaat dengan 1 salam, kemudian 4 rakaat lagi seperti itu , kemudian 3 rakaat. Lalu apakah duduk (tasyahud –pent) pada setiap 2 rakaat pada yang 4 dan 3 rakaat? Kami belum mendapatkan jawaban yang memuaskan dalam masalah ini. Tapi duduk pada rakaat kedua dari yang tiga rakaat tidak disyariatkan!

Cara Kelima
Shalat 11 rakaat diantaranya 8 rakaat, tidak duduk kecuali pada yang kedelapan, (pada yang ke-8 ini –pent) bertasyahud dan bershalawat kepada Nabi Shallallahu‘alaihi wasallam, kemudian berdiri lagi dan tidak salam, kemudian witir 1 rakaat, lalu salam, ini berjumlah 9 rakaat, kemudian shalat 2 rakaat lagi sambil duduk.

Cara Keenam
Shalat 9 rakaat, 6 rakaat pertama tidak diselingi duduk (tasyahud –pent) kecuali pada rakaat keenam dan bershalawat kepada Nabi Shallallahu‘alaihi wa sallam dan seterusnya sebagaimana tersebut dalam cara yang telah lalu.
Inilah tata cara yang terdapat dari Nabi Shallallahu‘alaihi wa sallam secara jelas, dan dimungkinkan ditambah cara-cara yang lain yaitu dengan dikurangi pada setiap cara berapa rakaat yang dikehendaki walaupun tinggal 1 rakaat dalam rangka mengamalkan hadist Rasulullah Shallallahu‘alaihi wa sallam yang telah lalu (“…Barangsiapa yang ingin, witirlah dengan 5 rakaat, barangsiapa yang ingin, witirlah dengan 3 rakaat, barang siapa yang ingin, witirlah dengan 1 rakaat”) [Faedah penting: Berkata Ibnu Khuzaimah dalam “Shahih Ibni Khuzaimah” 2/194, setelah menyebutkan hadist Aisyah dan yang lainnya pada sebagian cara-cara tersebut, maka dibolehkan shalat dengan jumlah yang ana dari yang dia sukai dari yang telah diriwayatkan dari Nabi Shallallahu‘alaihi wasallam melakukannya tiada larangan bagi siapapun padanya, Saya katakan: Ini difahami sangat sesuai dengan apa yang kita pilih yang konsisten dengan jumlah yang shahih.
Dari Nabi Shallallahu‘alaihi wa sallam dan tidak menambahinya. Segala puji bagi Allah atas taufiq-Nya dan aku meminta Nya untuk menambahi keutamaan-Nya.]
Shalat 5 dan 3 rakaat ini, jika seseorang menghendaki untuk melakukannya dengan 1 kali duduk (tasyahud –pent) dan satu kali salam sebagaimana pada cara kedua, boleh.
Dan jika ingin, bisa dengan salam pada setiap 2 rakaat seperti pada cara ketiga dan yang lain dan itu lebih baik. Adapun shalat yang 5 dan 3 rakaat dengan duduk (tasyahud –pent) pada setiap 2 rakaat tanpa salam, kita tidak mendapatinya terdapat dari Nabi Shallallahu‘alaihi wasallam, pada asalnya boleh, akan tetapi nabi Shallallahu‘alaihi wa sallam ketika melarang untuk 3 rakaat dan memberikan alasannya dengan sabda beliau “Jangan serupakan dengan shalat mahgrib…” (diriwayatkan At-Thahawi dan Daruquthni dan selain keduanya lihat “Shalatut Tarawih” hal 99-110).
Maka bagi yang ingin shalat witir 3 rakaat hendaknya keluar dari cara penyerupaan terhadap mahgrib dan itu dengan 2 cara :
1. Salam antara rakaat genap dan ganjil itu lebih utama.
2. Tidak duduk (tasyahud –pent) antara genap dan ganjil, (yakni pada rakaat kedua –pent).
Bacaan pada witir yang tiga rakaat
Diantara sunnah Nabi Shallallahu‘alaihi wasallam, ialah membaca pada rakaat pertamanya surat Al-A’la dan kedua membaca surat Al-Kafirun dan pada rakaat ketiga membaca surat Al-Ikhlas dan terkadang menambahkan dengan surat Al-Alaq dan An- Naas. Telah terdapat pula dalam riwayat yang shahih bahwa beliau Shallallahu‘alaihi wa sallam membaca pada satu rakaat witir dengan 100 ayat dari surat An-Nisa’.
(Riwayat An-Nasai dan Ahmad dengan sanad yang shahih).
Doa Qunut witir dan tempatnya
Sesudah membaca bacaan (surat –pent) sebelum ruku’ terkadang beliau melakukan qunut dan berdoa dengan doa yang Nabi Shallallahu‘alaihi wa sallam ajarkan kepada cucunya Hasan bin Ali, yaitu :
يل كر ابو ,تيلوت نميف ينلوتو ,تيف اع نميق ينق اعو ,تيده نميف يت دها مهللا”
,تيلاو نم ل ديال هناو ,كيلع ىضقيالو يضثت كنءاف ,تيضق ام رش ينقو ,تيطعا اميف
“.كيلا الا كنم اجنمال ,تيل اعتو انبر تكر ابت ,تيد اع نمزعي الو
“Ya Allah berilah aku hidayah, termasuk pada orang yang Engkau beri hidayah, dan berilah aku keselamatan, dan orang yang Engkau anugrahi keselamatan dan perbaikilah urusanku, termasuk dalam orang yang Engkau perbaiki urusannya, dan berkahilah aku pada apa yang Engkau anugerahkan kepadaku, dan hindarkan aku dari kejahatan apa yang Engkau putuskan, sungguh Engkaulah yang memutuskan dan bukan diputuskan, dan sungguh tidak akan hina orang yang Engkau tolong serta tidak akan mulia orang yang memusuhi-Mu, Maha Berkah Engkau dan Maha Tinggi, tiada tempat berlindung
dari-Mu kecuali kepada diri-Mu”.
(Riwayat Abu Dawud, Nasai dan yang lainnya dengan sanad yang shahih; lihat “Sifat Shalat Nabi” hal: 95-96 cet. ke-7).
Kemudian terkadang bersholawat kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Dan tidak mengapa melakukan qunut setelah ruku’, juga menambah melaknati orangorang kafir, dan bersholawat kepada Nabi Shallallahu‘alaihi wa sallam serta mendoakan kaum muslimin pada pertengahan kedua dari bulan ramadhan, karena telah ada yang demikian ini dimasa Umar radhiyallahu ‘anhu, yang telah tersebut pada hadist Abdurrahman bin Abdul Qari’: “Dan mereka melaknati orang-orang kafir pada pertengahan (ramadhan –pent)” :
واًلق في ,وخا لف بین كلمتھم ,ولا یؤمنون بوعد ك ,اللھم قا تل الكفرة الذین یصد ون عن سبیلك ویكذ بون رسلك”
“زقحلا هلا ,واًلق علیھم رجزك وعذا بك ,قلوبھم الرعب
“Ya Allah! Perangilah orang-orang kafir yang menghalangi dari jalan-Mu dan mendustakan para Rasul-Mu dan tidak beriman dengan janji-Mu. Cerai beraikan persatuan mereka, lemparkan rasa takut pada hati mereka, dan lemparkan adzab-Mu atas mereka wahai Illah yang haq.”
Kemudian bersholawat kepada Nabi Shallallahu‘alaihi wa sallam dan berdoa untuk kaum muslimin semampunya dari kebaikan, lalu mintakan ampun untuk mereka. Dia berkata juga, “Setelah selesai melaknati orang-orang kafir dan bersholawat kepada Nabi Shallallahu‘alaihi wa sallam, maka diteruskan dengan membaca :
كباذع ناِ ,ونخاف عذابك الجد ,ونرجورحمتك ربنا ,والیك نسعى ونحفد ,ولك نصلي ونسجد ,اللھم ایاك نعبد ”
“قحلم تيداع نمل
“Ya Allah! Hanya kepada-Mu kami menyembah dan hanya untuk-Mu kami shalat dan sujud. Hanya kepada-Mu kami menuju dan menyegerakan langkah kami. Kami mengharap rahmat-Mu wahai Tuhan kami dan kami takut adzab-Mu yang sangat. Sesungguhnya adzab-Mu akan mengenai orang yang memusuhi-Mu.”
Kemudian bertakbir dan menuju sujud. (Riwayat Ibnu Khuzaimah dalam kitab “Shahihnya” (2/155-156/1100)).
Yang diucapkan di akhir witir
Termasuk dari sunnah Nabi Shallallahu‘alaihi wa sallam adalah mengucapkan pada akhir shalat witir sebelum atau sesudah salam :
واعوذبك منك لااَ حصي ثناء علیك انت كما اثنیت ,اللھم اني اعوذ بر ضاك من سخطك ومعا فاتك من عقوبتك”
” كسفن ىلاع
“Ya Allah ! Sesungguhnya aku berlindung dengan keridhaan-Mu dari kemungkaran-Mu dan (aku berlindung) dengan ampunan-Mu dari siksaan-Mu. Dan aku berlindung kepada-Mu dari (siksaan-Mu). Aku tidak mampu menghitung pujian atas-Mu, sebagaimana Engkau puji diri-Mu.” (Shahih Abi Dawud (1282) dan Al-Irwa’ no :430)
Kemudian jika telah salam dari shalat witir mengucapkan :
“.سودقلا كلملا ناحبس ,سودقلا كلملا ناحبس ,سودقلا كلملا ناحبس″
“Maha suci Raja yang Maha Suci, Maha suci Raja yang Maha Suci, Maha suci Raja yang Maha Suci,” dengan memanjangkan serta mengeraskan suaranya saat mengucapkan yang ketiga kalinya. (Shahih abi Dawud no:1284).
Dua rakaat setelah witir
Dibolehkan shalat dua rakaat, karena telah terdapat dalil dari perbuatan Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam (riwayat Muslim dan lainnya lihat “Shalat Tarwih”, hal:108-109), bahkan beliau memerintahkan umatnya dengan sabdanya :
“Sungguh safar ini payah dan berat, maka jika salah seorang dari kalian telah melakukan witir, hendaknya rukuk (shalat) dua rakaat, jika bangun, jika tidak keduanya telah memilikinya.” (Riwayat Ibnu Khuzaimah dalam “Shahih”nya dan darinya juga yang lainnya. Telah ditahkrij dalam “Silsilah Shahihah”. Dulu aku Tawaquf (tidak bisa memutuskan pada masalah itu) dalam waktu yang cukup lama, maka tatkala saya dapatkan perintah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mulia ini cepat-cepat saya mengambilnya dan saat itu saya tahu bahwa sabdanya :

” ليل اب مكت الص رخا اولعجا
ارتو “

“Jadikanlah witir akhir shalat kalian dimalam hari” adalah kewajiban pilihan saja bukan merupakan kewajiban dan itu adalah pendapat Ibnu Nashr hal:130)
Dan disunnahkan untuk membaca pada kedua rakaatnya surat Al-Zilzalah dan surat Al-Kafiruun. (Riwayat Ibnu Khuzaimah (1104,11050 dari hadist Aisyah dan Anas radhiyallahu ‘anhum dengan dua sanad yang saling menguatkan)

Catatan redaksi:
“Lagi, bagaimana Rasulullah sholat Tarawih/Lail & ragam raka’atnya”, yang bersumber dari kitab “Shalatut Tarawih”, disana disertakan dalil-dalil ragam sholat Tarawih Rasulullah diatas yakni di alamat http://www.salafy.or.id/salafy.php?menu=detil&id_artikel=752.
(Dinukil dari terjemahan kitab “Qiyamu Ramadhan”, karya Syaikh Muhammad Nashiruddin al Albani, edisi Indonesia “Shalat Tarawih Bersama Rasulullah Shallallahu‘alaihi wa sallam”, Penerjemah: Al-Ustadz Qomar Su’aidi, Bab “Tata Cara
Shalat Tarawih” Hal: 60-71, Penerbit: Cahaya Tauhid Press)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s