Category Archives: Cerpen

Belalang dan Putri

 

Ambona terbujuk keinginan putrinya untuk menangkap belalang di sekitar rumah. Seusai hujan kemudian matahari sedikit bersinar, belalang banyak dijumpai lompat-terbang di sana-sini. Ambona menebak perkenalan pertama putrinya dengan binatang jenis itu adalah lewat televisi — tentang bocah yang sering berpetualang dan menangkap binatang kecil seperti belalang. …

Cukup lama, Ambona belum mendapatkan seekor pun. Ia menyadari pergerakannya tidak selincah binatang kecil itu. Ambona merasa capek, melangkah ke sana kemari sembari membungkuk mencari belalang. Tapi Ambona berusaha bersabar. Ia terhibur dengan semangat putrinya menangkap binatang lucu itu.

Ambona terkadang berpikir, mending waktu seperti ini ia gunakan membaca buku atau koran. Ia akan mendapat banyak informasi. Dengan membaca, ia akan mengetahui dunia lain dengan mudah dan murah. Dibanding menangkap belalang seperti ini.

Tapi putrinya sungguh gembira berlari ke sana-sini mengejar belalang. Eits, bukankah ini kesempatan yang mahal? Lihat bagaimana ia bergembira. Kegembiraan yang ia rasakan menular ke perasaan Ambona. Oya, tepat sekali, sebuah penelitian mengungkapkan bahwa kegembiraan seseorang dengan cepat menular kepada orang lain.

Kegembiraan berdampak sistemik yang positif kepada orang yang ada di sekitar kita. Berbeda dengan kemurungan dan kesedihan seseorang, tidak cepat berdampak kepada orang lain.

Ambona belum dapat menangkap seekor pun. Namun ia dijalari perasaan syukur “merasakan” hal seperti ini. Ia dapat melihat berbagai jenis rumput, tumbuhan liar, berbagai jenis batu, bunga kecil, bulu bunga, cacing, kadal, siput, kupukupu, daun kering, dan mencium bau tanah segar.

O, benarlah apa yang dikatakan Conficius bahwa semua ciptaan Tuhan di dunia mengandung keindahan tetapi hanya segelintir orang yang bisa dan mempunyai kesempatan merasakannya. Luangkan waktu untuk mendapatkan keindahan-keindahan itu. Berjalanlah kalian di muka bumi….

Ambona kian bersemangat membantu putrinya menangkap belalang. Terkadang ia berpura-pura menjatuhkan diri, membuat putrinya tertawa-tawa. Benar, ini adalah kesempatan yang mahal. Ini adalah kegembiraan yang tertular di antara kami dan matahari pun tertawa gembira bersama kami pagi itu.

Ambona teringat sebuah kisah tentang seorang ayah yang sangat sibuk. Suatu hari, putranya yang berusia lima tahun merengek untuk dimandikan oleh sang ayah, sekali saja. Namun sang ayah tak punya waktu untuk itu. Ia hanya mengusap rambut putranya kemudian melesat pergi ke tempat kerja.

Menjelang malam, sang ayah dikabari putranya demam tinggi. Sang ayah tetap melanjutkan aktivitasnya dan yakin istrinya dapat menangani masalah itu, lantaran pikirnya, itu demam biasa. Tiga jam kemudian, ia mendapat kabar putranya telah meninggal dunia.

Ketika ikut memandikan jenazah putranya, sang ayah itu tersentak. Pagi ketika akan berangkat kantor anaknya merengek untuk dimandikan. Sekarang, ia memandikan tapi dalam kondisi sang anak sudah tidak bernyawa. Menangislah sang ayah, sembari mengatakan berulang-ulang, “Ayah tengah memandikanmu, Sayang….”

Ambona dapat menangkap seekor belalang. Suka-cita ia berteriak, “Sayang, sini, aku telah mendapatkanmu seekor!”

Entri ini ditulis di Cerita Pendek dan ber-tag Cerita Pendek pada 16 Maret 2010.
Iklan

Percakapan Dua Mbah

Negeri ini pernah punya dua Mbah yang amat populer, Mbah Surip dan Mbah Marijan. Keduanya sudah kembali ke haribaan khaliqNya. Di alam “sana” mereka bertemu dan “bercengkerama”. Ini cengkerama (imajiner) mereka.
“Ha ha ha selamat datang Mbah Marijan, apa kabar dari negeri kita”, ujar Mbah Surip menyambut ruh Mbah Marijan dengan ketawa khasnya.
“E Surip, kita ketemu lagi. Kabar dari negeri kita semakin suram.
Bencana terjadi di sana-sini. Belum lama ini saja sudah ada tiga bencana lagi, di Wasior, di Mentawai dan di Jawa Tengah Merapi batuk-batuk. Anak Krakatau juga mulai mendengus. Gamalama juga sama, ikut Karangetan di Sulawesi Utara”.
“Ha ha ha tak gendong ke mana-mana, bencana di manamana, plesir ke mana-mana, enak yo mantep yo ha ha ha”.
“Lho Surip kok masih nyanyi Tak Gendong, malah ditambahi macam-macam. Yang plesir ke mana-mana itu siapa?” “Wah Mbah Marijan ini kayak nggak tau aja, yang plesir itu ya wakil rakyat. Katanya studi banding, pergi belajar tata krama di negeri orang. Rakyatnya di sini disembur wedhus gembel, digulung tsunami dilabrak banjir bandang, e malah pergi jalan-jalan”.
“Surip…Surip, ternyata kamu itu masih begitu-begitu juga. Tapi iya juga ya, masa sih ada wakil rakyat yang malah seperti ndak punya empati, rakyat sudah jadi korban bencana malah disalahin, kenapa tinggal di daerah yang rawan bencana. Itukan kata-kata yang tidak pantas dari orang yang mengaku wakil rakyat”.
“Ha ha Mbah Marijan yang kusayang, bukan kalimatnya yang tidak pantas, tapi orangnya yang memang tidak pantas jadi wakil rakyat. Orang seperti itu tidak bisa bilang I Love You Full pada rakyat. Ha ha ha”.
“Surip, kamu itu jangan terus-terusan ketawa saja. Saudarasaudara kita di sana masih dilanda bencana, kamu jangan senang-senang ketawa terbahak-bahak di sini. Yang prihatin dong, tunjukkan simpati pada mereka”.
“Ha ha ha Mbah Marijan yang bijak, ketawa saya ini bukan ketawa senang-senang. Ini model ketawa kebanyakan saudarasaudara kita. Ini ketawa yang dipaksakan walaupun menderita.
Kebanyakan saudara-saudara kita yang masih hidup di alam derita Indonesia kan begitu. Coba lihat mereka yang di penampungan itu, mereka masih tertawa sebab kalau sudah tidak tertawa apalagi yang dipunyai? Sudah menderita tidak punya tawa lagi”.
“Lha tertawa begitu kan hanya dibuat-buat, hanya untuk dilihat orang. Itu sandiwara namanya. Lha kita harus belajar dari Merapi itu, kalau dia marah ya marah, kalau senang ya senang”.
“Ha ha ha Mbah Marijan yang bijak, yang suka sandiworo itu kebanyakan bapak-bapaknya rakyat itu. Coba lihat waktu Pak Presiden mau berkunjung ke posko pengungsi, barulah ramai-ramai bantal dan kasur dibagikan, malah ada yang bawa spring bed. Tapi katanya bapak-bapak itu, nanti kalau Pak Presiden pulang, bantal dan kasurnya dibalikin lagi, ha ha ha mending tak gendong ke mana-mana, enak to mantep to?”.
“Sampeyan itu bener sekali Surip, bapak-bapak rakyat itu kelihatannya memang banyak yang suka sandiworo, jadinya malah bikin kacau. Lha alam pun ikut-ikutan kacau. Negeri berjalan ndak tau apa maunya. Aku pun jadi bingung dengan Merapi apa maunya”.
“Ha ha ha sudah deh Mbah, mari kita tinggalkan negeri sandiwara ini, biarkan orang-orang bersandiwara, mending Mbah Marijan tak gendong ke mana-mana, enak to mantep to”

“ee..ee.,tapi tunggu dulu lho !!,  masih ada teman kita di Kelud namanya juru kunci Mbah Ronggo, tetapi sayang dia tidak sepupuler dengan saya ” sakut Mbah Marijan sambil meloncat ke punggung Mbah Surip.

Wow ..berat amat kamu Mbah , jangan-jangan ada batu vukanik ikut terbawa dengan Mbah.” , Jangan samakan saya dengan koruptor lho !!!.

Laptop dan Keledai

Laptop dan Keledai
Imam Al Ghazali menertawai orang pintar yang bingung ketika keledainya lari dan menghilang ketika ia sedang istirahat dalam perjalanan pergi mengajar di kota lain. Masalahnya, di punggung keledainya terpikul banyak buku penting yang akan dipakainya mengajar di mana-mana.

Karena bukunya tidak ada maka sang orang pintar praktis tidak bisa mengajar, tidak bisa berceramah. Ia merasa tidak akan bisa mengemukakan apa-apa. Bahannya untuk mengajar dan berceramah memang semuanya ada di buku-buku yang dibawa lari oleh keledai yang menghilang entah ke mana itu.

Setelah ia mencari-cari keledainya namun tidak juga ketemu, terpaksa ia memutuskan pulang dengan kecewa karena tidak jadi mengajar dan berdakwah. Kesempatan untuk meraih pahala besar menjadi hilang.

Tapi itu cerita zaman dulu, bagaimana dengan sekarang?

Sekarang orang tidak perlu lagi pakai keledai membawa buku. Juga tidak perlu pakai kendaraan lain seperti mobil. Sekarang ribuan buku bisa sekali masuk dalam sebuah laptop tipis, atau bahkan dalam sebuah flash disk sebesar kelingking anak-anak, atau lebih kecil lagi, dalam memory card ukuran micro.

Tapi kejadian seperti dialami orang pintar zaman baheula itu ternyata tetap juga bisa dialami orang zaman super maju sekarang.

Sekarang ada juga orang pintar yang tiba-tiba panik menjelang akan mempresentasikan materinya (mengajar, pembicara dalam seminar) misalnya karena laptopnya terlupa, atau tidak bawa flash disk yang berisi materi presentasinya. Ada yang merasa kehilangan bahan sama sekali sehingga urung berbicara.

Ada yang masih bisa menyampaikan materi pembicaraan tapi ngelantur ke sana ke mari. Ada juga yang tetap bisa menyampaikan inti materi presentasinya dengan baik, walaupun tidak sesistematis kalau dia menggunakan power point.

Ternyata ironi orang pintar zaman dulu itu bisa juga terjadi pada orang pintar zaman super maju sekarang. Di mana letak masalahnya?

Locus ilmu di kalbu, kata Imam Al Ghazali. Klop dengan pernyataan Imam Syafi’i bahwa ilmu itu cahaya. Cahaya (ilmu) itu bersemayam pada diri (hati) manusia. Bila ilmu memang telah bersemayam di dalam diri manusia, maka bagaimana pun keadaannya maka ia tetap bisa mengutarakan ilmu yang telah dimilikinya atau ada pada dirinya.

Bila ia tidak mampu mengutarakannya, maka sesungguhnya memang belum ada yang dia miliki untuk diutarakan. Di situlah sebenarnya masalahnya.

Jadi, samalah bingungnya orang pintar pemilik keledai zaman dulu ketika keledainya raib membawa buku-bukunya dengan orang-orang pintar sekarang yang kelupaan laptop atau flash disk ketika akan presentasi.

Sama-sama bingung karena ilmu yang ingin dia sampaikan masih ada di buku atau di laptop. Padahal jika memang telah ada pada dirinya, dia bisa menggunakan berbagai macam cara untuk mentransmisikannya pada orang lain.

Zaman maju sekarang, teknik presentasi memang sudah amat canggih. Dengan laptop dan LCD projector orang tidak hanya menjadi mudah menyajikan materi ilmu tapi sekaligus bisa menyajikannya dengan menarik. Akan tetapi tetap saja semua peralatan canggih itu adalah (hanyalah) alat. Ia seharusnya tidak membuat orang pintar tidak bisa bikin apa-apa ketika bermasalah dengan alatnya.

Ilmu tetap ada dalam diri orang pintarnya sendiri, yang seharusnya sewaktu-waktu siap dikemukakan dengan berbagai macam metode atau cara. Kalau tidak bisa dikemukakan dengan alasan alat presentasinya lupa dibawa atau hilang, jangan-jangan yang mau dikemukakan memang belum ada. Bukan alatnya yang tidak ada (Oleh: Fuad Rumi)

Penyair Yang Cinta Tanah Air

Khut Gwan ( Qu Yuan 屈 原 ), Seorang Penyair Yang Cinta Tanah Air

Pada tiap tanggal 5 Go Gwee ( bulan Lima Imlek ), di dalam keluarga Konfusiani di bergai negara, biasa mereka berkumpul, melakukan sembahyang dan makan kue cang ( kue dari ketan yang dibungkus daun bambu ) dicampur manis-manisan.

Di tepi-tepi sungai atau sepanjang pantai, orang berkerumun melihat lomba perahu naga. Ketika genderang berbunyi, orang yang berlengan kuat mulai beraksi dan meluncurkan perahu ramping dengan kepala naga. Inilah festival perahu naga dan tokoh yang menyebabkan adanya festival ini ialah Khut Gwan ( Qu Yuan ), beliau lahir di Negeri Cho (Chu 楚 国) pada sekitar tahun 340 sebelum masehi, pada masa yang paling kacau dalam sejarah dinasti Ciu ( Zhou 周 1122 s.M – 255 s.M ) yang disebut  zaman perang antar negara.
Aku Lurus dalam bentuk dan garis keturunan
Pada suatu hari yang cerah ketika Khut Gwan ( Qu Yuan ) berumur lebih kurang 20 tahun, ia sedang melihat sebatang pohon jeruk di halaman rumahnya. Pohon jeruk itu jenis yang istimewa. Daunnya lebih hijau, bunganya lebih cemerlang, buahnya lebih manis daripada pohon jeruk lain yang sama jenisnya. Hal itu hanya dapat berhasil bila ditanam di tanah dan iklim Negeri Cho ( Chu 楚 国 ). Di cangkok dan ditanam di negeri mana pun, jenis pohon itu akan layu dan mati. Khut Gwan ( Qu Yuan 屈 原 ) mengagumi pohon jeruk itu karena indahnya dan karena kesetiaannya terikat pada tanah airnya.
Seperti pohon jeruk itu, Khut Gwan ( Qu Yuan 屈 原 ) merasa berakar dalam di negeri Khut Gwan ( Qu Yuan 屈 原 ). Para leluhurnya adalah termasuk di antara para pendiri Negeri Cho ( Chu 楚 国 ). Keluarga Khut Gwan ( Qu Yuan 屈 原 ) adalah salah satu di antara tiga keluarga besar yang termasyhur di Negeri Cho ( Chu 楚 国 ).
Wajahnya yang cakap, sikapnya yang lemah-lembut, berwibawa dalam pembawaan, mencerminkan leluhurnya yang mulia terhormat. Khut Gwan ( Qu Yuan 屈 原 ) seorang negarawan yang cerdas dan seorang ahli puisi. Pandai berbahasa dan cerdas, ia memperlajari berbagai bidang ilmu pengetahuan seperti astronomi ( ilmu bintang ), ilmu bumi, sejarah, pertanian, hukum dan sastra.
Keluasaan pengetahuannya sesuai dengan perasaannya yang dalam. Khut Gwan ( Qu Yuan 屈 原 ) mempunyai jiwa yang sensitif dan penuh semangat, berbudi luhur dan jernih, penuh dengan cita yang tinggi, terutama untuk negerinya yang sangat dicintainya.
Aku Ingin Melakukan Perbuatan Besar untuk Tanah Air dan Rakyatku
Kerajaan Ciu  ( Zhou 周 ) pada waktu itu terbagi menjadi tujuh negara  yang satu terhadap yang lain saling mengawasi dengan penuh ambisi dan kecurigaan. Tujuh negara itu ialah Negeri Yan, Cee, Thio, Gwi, Han, Cho dan Chien. Negeri Chien yang berkedudukan di wilayah Barat Laut ialah yang paling kuat dan agresif dan Negeri Cee yang di wilayah Timur ialah yang paling kaya dan makmur, sementara negeri Cho ( Chu 楚 国 ) yang berkedudukan di wilayah sekitar sungai Tiang-kang ( Yangzi ) ialah yang paling luas. Negeri Chien mempunyai pemerintahan dan angkatan perang yang paling efisien. Negeri Chien senantiasa menanti kesempatan untuk menaklukan negeri-negeri yang lain satu persatu.
Khut Gwan ( Qu Yuan 屈 原 ) mengajukan proposalnya kepada raja yang dengan senang menerimanya. Ia menugaskan Khut Gwan ( Qu Yuan 屈 原 ) menangani hal-hal yang menyangkut urusan dalam dan luar negeri. Ke luar, Khut Gwan ( Qu Yuan 屈 原 ) harus berhasil menjalin persahabatan dengan negeri Cee, dan dalam hal ini ia telah menggunakan kemampuannya yang luar biasa. Ke dalam, ia harus membuat rencana undang-undang bagi era baru ini. Ia segera dapat menyiapkan rencana itu.
Kelihatannya, Khut Gwan ( Qu Yuan 屈 原 ) seolah-olah akan berhasil merealisasikan programnya tetapi sayang, orang-orang rendah budi masuk menjegalnya.
Rajaku lebih mendengarkan para pengkhianat
Ada orang-orang di istana yang sama sekali tidak menyukai Khut Gwan (Qu Yuan 屈 原). Perubahan yang ditawarkan Khut Gwan ( Qu Yuan 屈 原 ) akan menghilangkan hak-hak istimewanya dan membuka kebusukan hatinya. Mereka juga cemburu terhadap bakat dan kepiawaian Khut Gwan ( Qu Yuan 屈 原 ). Karena kekurangan kebolehan dan integritas (kepercayaan diri), mereka membenci Khut Gwan ( Qu Yuan 屈 原 ) yang memiliki kedua-duanya. Mereka yang munafik dan hanya mencintai diri sendiri, membenci Khut Gwan (Qu Yuan 屈 原) yang mencintai kebenaran dan tanah air di atas segalanya. Maka mereka membentuk komplotan untuk melawan Khut Gwan ( Qu Yuan 屈 原 ).
Salah seorang dari mereka datang kepada raja dan berkata, “Tahukah baginda, apa yang disebarkan Khut Gwan ( Qu Yuan 屈 原 ) di istana ? Baginda dikatakan bahwa tanpa dia, baginda tidak dapat berbuat apa-apa, bahwa dialah satu-satunya orang yang mampu menegakkan hukum dan melaksanakan strategi politik yang efektif.”
Demikianlah mereka menjilat sang raja dan meracuni telinganya. Raja yang bodoh dan lemah mental itu dengan mudah diombang-ambingkan niatnya. Segera raja menurunkan kedudukan Khut Gwan ( Qu Yuan 屈 原 ) dan menjauhinya.
Komplotan orang-orang penjilat dan penghkhianat yang berpihak kepada negeri Chien karena mereka telah disuap oleh utusan Chien, mereka membujuk raja agar mau bersahabat dengan negeri Chien dan memutuskan hubungan dengan negeri Cee. Khut Gwan ( Qu Yuan 屈 原 ) sangat menentang maksud itu. Tetapi saran kepada rajanya itu hanya seperti masuk ke telinga yang tuli.
Negeri Chien ternyata adalah kawan yang khianat. Negeri Chien banyak dan kian banyak mengambil tanah negeri Cho ( Chu 楚 国 ), lewat kekuatan senjata dan lewat tipu muslihat. Raja Cho ( Chu 楚 国 ) yang telah terbius oleh kata-kata manis para menterinya yang korup, tetap tidak dapat menyadari.
Suatu hari, Raja Negeri Chien mengundang Raja Cho ( Chu 楚 国 ) berkunjung ke negeri Chien untuk bermusyawarah. Raja Cho ( Chu 楚 国 ) ketika akan berangkat, Khut Gwan (Qu Yuan 屈 原) berteriak, “Jangan pergi, rajaku. Negeri Chien itu tanah harimau dan serigala. Negeri itu tidak dapat dipercaya. Baginda mungkin tidak akan pernah pulang.”
Seorang pembantu istana yang berpihak kepada negeri Chien cepat menyela, “Sangat tidak pantas menolak undangan yang bersahabat dari negeri tetangga kita. Dan lagi, ini adalah suatu tanda penghormatan besar untuk Baginda. Alangkah pencuriganya kamu!”
Maka Raja Cho ( Chu 楚 国 ) berkunjung ke negeri Chien dan tidak pernah kembali. Begitu raja Cho ( Chu 楚 国 ) melewati daerah perbatasan, ia ditahan dan tidak pernah kembali serta dipaksa untuk menandatangani persetujuan menyerahkan wilayah yang sudah diambil Negeri Chien. Ia menolak menandatangani dan akhirnya meninggal di Negeri Chien.
Para menteri Negeri Cho ( Chu 楚 国 ) mengangkat raja baru yang lebih tidak berguna dibandingkan yang sebelumnya. Raja itu bahkan menghukum buang Khut Gwan ( Qu Yuan 屈 原 ) ke wilayah pengasingan.
Lewat beberapa tahun, Negeri Cho ( Chu 楚 国 ) kian lama kian menjadi lemah. Istana Negeri Cho ( Chu 楚 国 ) pun kian kacau, dipenuhi dengan orang-orang yang hanya mencari keuntungan bagi diri sendiri dan tidak mempunyai wawasan luas.
Aku berdiri sendiri, suci
Khut Gwan ( Qu Yuan 屈 原 ) sedih untuk raja yang telah meninggal. Ia lebih sedih untuk negeri dan rakyatnya. “Kemana tujuanmu, sayang? Engkau seperti kereta terbalik, meluncur kearah kehancuranmu sendiri.”
Jiwanya merana. Penderitaannya terungkap dalam sanjak-sanjaknya. Di dalam keputusasaannya, Khut Gwan ( Qu Yuan 屈 原 ) menulis beberapa bait yang sangat menyentuh dalam sanjaknya. Sanjaknya yang terbesar ialah yang berjudul Li sao 离 骚 (menanggung kepedihan), sebuah karya yang mencerminkan harapan yang sangat sang penyair dalam mencari kebenaran dan keindahan.
Khut Gwan ( Qu Yuan 屈 原 ) tidak dapat menahan diri untuk bertanya diri sendiri :
Mengapa yang baik menderita ?
Mengapa yang jahat berjaya ?
Mengapa yang khianat mendapat kepercayaan ?
Mengapa yang penjilat justru mendapat hadiah ?
Mengapa yang setia justru dihempaskan ?
Mengapa yang jujur justru dihukum ?
Kakak perempuan Khut Gwan ( Qu Yuan 屈 原 ) yang melihat keprihatinannya, menghibur dengan berkata, “Mengapa engkau mengasingkan diri ? Berbuatlah seperti yang lain kerjakan. Katakan kepada raja hanya apa yang baginda inginkan !”
“Aku tidak dapat, aku tidak mau!” teriak Khut Gwan ( Qu Yuan 屈 原 ). “Aku tidak mau melepuhkan lidahku dengan kebohongan. Aku tidak dapat menodai jiwaku dengan hal yang memalukan. Aku tidak dapat berkubang di dalam lumpur dan aku tidak dapat bersenang-senang bermabuk-mabuk bersama orang-orang itu. Aku akan berdiri sendiri, suci.”

Betapa aku dapat meninggalkan tanah airku ?
Khut Gwan ( Qu Yuan 屈 原 ) berdiam di tanah pengasingan. Kurus, kurang tidur dan dengan rambut yang tidak heran, ia berjalan mengembara di bawah bayang-bayang gunung yang menjulang dan sepanjang tebing sungai yang suara alirannya gemercik. Beberapa tahun Khut Gwan ( Qu Yuan 屈 原 ) terlunta-lunta sampai ia tiba di tepi sungai Bik loo ( Mi luo ).
Dari jauh datang berita buruk. Pasukan Negeri Chien telah memasuki ibukota Cho ( Chu 楚 国 ). Raja beserta seluruh isi istana telah melarikan diri. Tentara Negeri Chien ada di seluruh  Cho ( Chu 楚 国 ). Khut Gwan ( Qu Yuan 屈 原 ) melihat betapa rakyat menderita. Sawah ladang berubah menjadi ajang peperangan tiap malam. Para petani menjadi pengungsi sepanjang hari. Jeritan perang, jeritan kematian, jeritan kepedihan sampai ke telinga Khut Gwan ( Qu Yuan 屈 原 ) dan menusuk hatinya.
Khut Gwan ( Qu Yuan 屈 原 ) tidak mendapat kesempatan menyelamatkan negerinya. Di istana tempatnya mengungsi. Sang raja masih bermabuk-mabukan seperti biasanya. Orang-orang durhaka di istana masih terus melakukan permainan yang berbahaya dengan menjilat dan berkhianat.
“Kamu manusia rendah budi! Apa yang telah kaulakukan terhadap rajaku ? Apa yang telah kau lakukan terhadap negeriku? Apa yang telah kaulakukan terhadap rakyatku ?”
Khut Gwan ( Qu Yuan 屈 原 ) dengan mata yang basah melihat aliran sungai Bik loo ( Mi Luo ) yang tanpa rasa kasihan itu. Ketika itu, beliau berusia 62 tahun, harapannya telah pudar, mimpinya telah punah, cita-citanya telah dikhianati.
“Terbang! Terbang!” terdengar suara bergema. “Ayo pergi ke negeri lain, mengabdi kepada raja yang lain. Kepiawaianmu akan bersinar ke mana-mana.”
“Ya, ya, aku akan pergi ke negeri lain dan melayani raja lain.” Khut Gwan ( Qu Yuan 屈 原 ) naik menunggang kudanya yang cepat lari itu dan terbang ke negeri lain ketika ia melihat tempat sekitarnya dan menatap tanah negeri Cho ( Chu 楚 国 ) yang indah itu. Angin yang berdesir membawa bau harum jeruk yang sedang berbunga kepadanya.
“Bagaimana aku dapat meninggalkan tanah air ku!”
Khut Gwan ( Qu Yuan 屈 原 ) melepaskan kudanya dan sebagai gantinya ia mendekap sebuah batu ke dadanya dan terjun ke sungai Bik Loo ( Mi Luo ).
Sebuah Legenda

Riwayat hidup Khut Gwan ( Qu Yuan 屈 原 ) menjadi legenda. Katanya, ketika rakyat mendengar kematiannya, mereka dengan naik perahu mencari jasad Khut Gwan (Qu Yuan 屈 原). Ketika mereka gagal mendapatkannya, mereka menuang beras ke dalam sungai untuk roh Khut Gwan ( Qu Yuan 屈 原 ). Di Indonesia, sajian untuk menghormati roh Khut Gwan ( Qu Yuan 屈 原 ) itu dibuat dari beras ketan yang dijadikan kue dibungkus daun bambu yang dinamai kue cang dan yang berisi daging dinamai bak cang, untuk lomba mencari tubuh Khut Gwan (Qu Yuan 屈 原) diselenggarakan lomba perahu naga atau pehcun.

Saat Khut Gwan ( Qu Yuan 屈 原 ) menceburkan diri ke sungai Bik Loo ( Mi Luo ) itu bertepatan dengan saat upacara sembahyang Twan Yang ( Hari Sumber Kehidupan ), hari untuk mensyukuri rakhmat Tian untuk kehidupan di bumi ini yang jatuh pada tiap tanggal 5 Bulan 5 Imlek. Karena itu, tiap tahun pada hari itu digunakan pula untuk mengenang dan memperingati Khut Gwan ( Qu Yuan 屈 原 ), penyair besar yang berjiwa patriot, yang lebih memilih mati daripada meninggalkan tanah airnya.
“Seorang yang bercita menjadi siswa dalam cinta kasih / kebajikan, tidak inginkan hidup bila itu membahayakan cinta kasih. Bahkan ada yang mengorbankan dirinya untuk menyempurnakan cinta kasih itu.” ( Lun Yu XV : 9

Wanita Sexy di Zaman Modern

Wanita Sexy di Zaman Modern
Banyak kamus yang membahas pengertian Wanita Sexy tetapi yang jelas supaya sexy menurut “wanita moderen” , gunakanlah pensil rias penghitam kelopak mata, wight, pemerah bibir, cat kuku,, peruncing ujung jari, kutang penyanggah payudara agar menonjol kedepan, , garis hijau diatas alis dan garis biru dibawah mata, biarkan mata kaki nampak menonjol agar menarik, paha sedikit terbuka agar tampak kaos kaki warna mencolok dan mata akan menulusuri keatas, pinggang nampak landai, pinggul kelihatan bulat.
Pinggul yang dimaksud adalah pantat, harus buka2an diberbagai tempat misalnya dada, punggung dan dua ketiak menganga supaya kulit yang putih cukup lebar terbuka setelah diberi parfum.
Kalau menggunakan gaum malam maka bukaan dada disebelah depan harus sampai ke pusat, jangan sampai kurang dari itu, tapi kalau agak risih..maka bagian belakang sajalah dibukatelanjangatau buat jendela turun sampai pinggul sehingga punggung seluruhnya terbuka lebar.
Ketiak setiap saat buka2an agar payu dara tampak lurus kedepan agar pandangan bebas dari seluruh arah untuk mengikuti pergerakannya..
Kalau memilih model perut tertutup , mungkin sementara hamil..supaya nampak anggung maka perlu dilatakkan bros atau mawar atau manik2 diatas pusat agar dapat meberi informasi kepada yang melihatnya “lihat donk sebentar ditempat yang ada tandanya ini..anda menyesal kalau dilewatkan..”, kalau ada lelaki buta, atau berkaca-mata minus..harus siap selalu menjelaskan merek parfum yang dipakai..atau selalu siap tersenyum apabila tersentuh bagian terbuka atau lekuk2nya..,gak moleh marah.. mengurangi keceriaan..dan kebugaran…Bagi wanita terhormat..misalnya Komisaris..atau pempinan apalah namanya..buka2an bisa diganti dengan kain sifon yang tembus pandang..dengan demikian bisa telanjang bulat dengan sopan dan pada saat yang sama tdk menghalangi pandangan tungku api yang menyala bergerak-gerak, bukit2, piramid2, lekuk2, tonjol2an yang bisa terlihat dibalik kain temaran yang dipakai.
Supaya lebih seksi lagi…pandangan dilarang keras melot tetapi harus redup..sayup.., bibir sedikit terbuka..memperlihatkan ujung lidah..yang meliuk ibarat siap dilumet..suara yang yang memikat..bila perlu logat kota metropolitan..sedikit bahasa asing..Kalau tau pake bahasa latin..yang sudah punah..untuk mengundang lelaki untuk bertanya.., langkah yang meliuk-liuk..seperti kelakuan perawan yang kemalu-maluan….itulah wanita seksi menurut orang jaman sekarang……………………Kata ibu Unyil
Pengertian modern yang revolusioner tentang wanita seksi yaitu wanita yang merangsang nafsu laki2 sebuah pengertian yang sebenarnya merendahkan martabat derajat wanita dan martabat derajat laki-laki sekaligus.
Menurut Bapak Unyil , wanita idaman adalah seorang ibu yang dapat merealisasikan belas dan kasih, kelembutan cinta dan saling pengertian.., ia mengerti bahwa kewanitaan bukanlah dada yang montok dan lekuk2 yang mengiurkan, karena ia tahu pula bahwa wanita menggiurkan itu bila hamil ibarat seekor kijang kencana berubah menjadi seekor sapi
Akan tetapi untunglah bahwa revolusi modern seperti ini tidak sampai menyeluruh, karena masih banyak para wanita yang baik2, “Mereka masih ketinggalan zaman seperti Ibu Unyil

Membangun Jembatan Kehidupan

 

Post image of Membangun Jembatan Kehidupan

Suatu waktu dua bersaudara, yang tinggal di daerah pertanian yang berdampingan, terlibat konflik. Itu keretakan serius yang pertama kali terjadi selama 40 tahun bersebelahan bercocok tanam, berbagi peralatan mesin, pekerjaan dan hasil pertanian yang diperlukan tanpa ada konflik.

Kemudian kerjasama yang panjang itu berakhir. Itu diawali melalui sebuah salah pengertian yang sepele dan berkembang menjadi sebuah perbedaan besar, sampai akhirnya meledak menjadi pertukaran kata-kata yang sengit yang diikuti saling mendiamkan selama berminggu-minggu berikutnya.

Pada suatu pagi ada ketukan di pintu rumah petani yang lebih tua. Ketika dia membuka pintu tampak seorang dengan kotak peralatan tukang. “Saya mencari pekerjaan untuk beberapa hari”, katanya, “Mungkin kamu dapat memberikan saya beberapa pekerjaan kecil di sini dan saya dapat mengerjakannya? Dapatkan saya membantu kamu?” “Ya”, kata saudara yang tua, “Saya mempunyai sebuah pekerjaan untukmu.”

Lihat diseberang anak sungai di pertanian itu! Itu pertanian tetanggaku, kenyataannya, itu milik saudara muda saya. Minggu lalu ada padang rumput diantara kami dan dia mengambil buldozernya untuk membendung sungai dan sekarang ada sebuah anak sungai diantara kami. Baiklah, dia boleh melakukan ini untuk membalas dendam pada saya, tetapi saya akan membalasnya dengan sesuatu yang lebih baik.”

“Lihat tumpukan kayu di samping gudang? Saya ingin kamu mendirikan pagar, 2,5 meter, sehingga saya tidak perlu melihat wajah atau tempatnya lagi.” Si Tukang kayu mengatakan, “Saya pikir saya mengerti situasinya. Ambilkan pada saya paku dan penggali dan saya akan dapat melakukan sebuah pekerjaan yang menyenangkan kamu.”

Saudara tua itu kemudian pergi ke kota, dia membantu tukang kayu untuk mendapatkan material dan dia tidak bertani pada hari itu. Si tukang kayu bekerja keras seharian mengukur, menggergaji dan memaku. Saat matahari terbenam dan si petani kembali, tukang kayu selesai dengan pekerjaannya.

Mata dan mulut si petani terbuka lebar. Tidak ada pagar sama sekali. Yang ada sebuah jembatan, yang menghubungkan kedua sisi sungai kecil itu. Sebuah pekerjaan yang bagus, ada anak tangga dan semuanya. Di ujung sana, saudara mudanya, datang menghampiri mereka, tangannya terbentang, “Kamu diam-diam membangun jembatan setelah semua yang sudah saya lakukan.”

Kemudian dua bersaudara itu berdiri di ujung masing-masing jembatan dan bertemu di tengah jembatan, bergenggaman tangan. Mereka berbalik dan melihat tukang kayu menaikkan peralatan tukangnya ke pundak. “Tidak, tunggu! Tinggallah untuk beberapa hari. Saya punya banyak pekerjaan untukmu”, kata si saudara tua. “Saya senang untuk tinggal,” kata si tukang kayu, tetapi banyak jembatan yang harus saya bangun.”

Itu bukan masalah bagaimana keadaan sekitar kita, karena kedamaian ada di dalam kita. Jangan menghabiskan sisa hidupmu dengan mencari dunia untuk kebahagiaan.

Lihatlah cermin dan tertawalah. Biarkan kebahagian mengalir dihati, pikiran dan jiwamu sampai mempengaruhi kehidupanmu dan orang-orang di sekitarmu.

disadur dari: Building a Bridge of Life.

Kakek Cerdik

Diawali pada jaman dahoeloe kala..

Kakek tua-renta bersama cucunya(10 thn) bepergian ke Negri “Nunjauh” melintasi empat Negri berpadang pasir dengan seekor Keledai kurus. Diawal perjalanan mula-mula sang cucu menunggangi keledai tersebut sampai di Negri Pertama dan disambut oleh penduduk dengan kata makian yg ditujukan pada sang cucu “Cucu durhaka, teganya menyiksa sang kakek renta berjalan ditriknya panas matahari”, ….no coment.., “gantian donk , giliran Kakek sekarang naik keledai ke Negri Kedua”..sesampai di Negeri Kedua disambut cacian penduduk ” Kakek kurang ajar , udah bau pasir (alias ajal hampir tiba), enak aja naik keledai sendirian…no coment..kemudian kata kakek ” Yuk..naik berdua menuju Negri Ketiga..”, Tiba di Negri Ketiga disambut yel..yel..”sadis banget nih Kakek and Cucu,..tidak berprikeledaian, nyiksa binatang yang udah kuyus..”…no coment…lanjut cerita untuk menuju Negri Berikutnya , sang Kakek mengajak cucunya berdua menggusung sang keledai melintasi padang pasir untuk melanjutkan perjalannya.., sesampai di Negeri Keempat …disambut dengan caka lele(tarian rakyat modern dijaman itu) sambil diteriaki..” Orang Gila..Orang Gila”… no coment.., sasampai di gubuk , sang cucu bertanya pada sang kakek ” kok.. tanggapan orang macam-macam ya..kek!!?”, jawab kakek ” biarin aje.., emank nya gue pikirin, seandainya pun kita hanya menarik keledai .. pasti mereka katakan..Kakek dan Cucu adalah binatang yang lebih goblok dari keledai”……