Category Archives: Hari Raya

Gong Xi Fa Cai

gong xi fa cai

gong xi fa cai

Di Tionkok, adat dan tradisi wilayah yang berkaitan dengan perayaan Tahun Baru Cina sangat beragam. Namun, kesemuanya banyak berbagi tema umum seperti perjamuan makan malam pada malam Tahun Baru, serta penyulutan kembang api. Meskipun penanggalan Cina secara tradisional tidak menggunakan nomor tahun malar, penanggalan Tionghoa di luar Tiongkok seringkali dinomori dari pemerintahan Huangdi. Setidaknya sekarang ada tiga tahun berangka 1 yang digunakan oleh berbagai ahli, sehingga pada tahun 2009 masehi “Tahun Tionghoa” dapat jadi tahun 4707, 4706, atau 4646

Dirayakan di daerah dengan populasi suku Tionghoa, Tahun Baru Imlek dianggap sebagai hari libur besar untuk orang Tionghoa dan memiliki pengaruh pada perayaan tahun baru di tetangga geografis Tiongkok, serta budaya yang dengannya orang Tionghoa berinteraksi meluas. Ini termasuk Korea, Mongolia, Nepal, Bhutan, Vietnam, dan Jepang (sebelum 1873). Di Daratan Tiongkok, Hong Kong, Macau, Taiwan, Singapura, Indonesia, Malaysia, Filipina, Thailand dan negara-negara lain atau daerah dengan populasi Han Cina yang signifikan, Tahun Baru Cina juga dirayakan, dan telah, pada berbagai derajat, menjadi bagian dari budaya tradisional dari negara-negara tersebut

Tanggal perayaan
Kalender lunisolar tionghoa menentukan tanggal Tahun Baru Cina. Kalender tersebut juga digunakan di negara-negara yang telah mengangkat atau telah dipengaruhi oleh budaya Han (terutama di Korea, Jepang dan Vietnam) dan mungkin memiliki asal yang serupa dengan perayaan Tahun Baru di luar Asia Timur (seperti Iran, dan pada zaman dahulu kala, daratan Bulgar).

Dalam kalender Gregorian, Tahun Baru Cina jatuh pada tanggal yang berbeda setiap tahunnya, antara tanggal 21 Januari dan 20 Februari. Dalam kalender Tionhoa, titikbalik mentari musim dingin harus terjadi di bulan 11, yang berarti Tahun Baru Cina biasanya jatuh pada bulan baru kedua setelah titikbalik mentari musim dingin (dan kadang yang ketiga jika pada tahun itu ada bulan kabisat). Di budaya tradisional di Cina, lichun adalah waktu solar yang menandai dimulainya musim semi, yang terjadi sekitar 4 Februari.

Tanggal untuk Tahun Baru Cina dari 1996 sampai 2019 (dalam penanggalan Gregori) dapat dilihat di tabel di atas, bersamaan dengan shio hewan untuk tahun itu dan cabang duniawinya. Bersamaan dengan daur 12-tahun masing-masing dengan shio hewan ada daur 10-tahun batang surgawi. Setiap surgawi dikaitkan dengan salah satu dari lima elemen perbintangan Cina, yaitu: Kayu, Api, Bumi, Logam, dan Air. Unsur-unsur tersebut diputar setiap dua tahun sekali sementara perkaitan yin dan yang silih berganti setiap tahun. Unsur-unsur tersbut dengan itu dibedakan menjadi: Kayu Yang, Kayu Yin, Api Yang, Api Yin, dan seterusnya. Hal ini menghasilkan sebuah daur gabungan yang berulang setiap 60 tahun. Sebagai contoh, tahun dari Tikus Api Yang terjadi pada 1936 dan pada tahun 1996.

Banyak orang mengacaukan tahun kelahiran Tionghoa dengan dengan tahun kelahiran Gregorian mereka. Karena Tahun Baru Cina dapat dimulai pada akhir Januari sampai pertengahan Februari, tahun Tionghoa dari 1 Januari sampai hari imlek di tahun baru Gregorian tetap tidak berubah dari tahun sebelumnya. Sebagai contoh, tahun ular 1989 mulai pada 6 Februari 1989. Tahun 1990 dianggap oleh beberapa orang sebagai tahun kuda. Namun, tahun ular 1989 secara resmi berakhir pada 26 Januari 1990. Ini berarti bahwa barang siapa yang lahir dari 1 Januari ke 25 Januari 1990 sebenarnya lahir pada tahun ular alih-alih tahun kuda.

Sebelum Dinasti Qin, tanggal perayaan permulaan sesuatu tahun masih belum jelas. Ada kemungkinan bahwa awal tahun bermula pada bulan 1 semasa Dinasti Xia, bulan 12 semasa Dinasti Shang, dan bulan 11 semasa Dinasti Zhou di China. Bulan kabisat yang dipakai untuk memastikan kalendar Tionghoa sejalan dengan edaran mengelilingi matahari, selalu ditambah setelah bulan 12 sejak Dinasti Shang (menurut catatan tulang ramalan) dan Zhou (menurut Sima Qian). Kaisar pertama China Qin Shi Huang menukar dan menetapkan bahwa tahun tionghoa berawal di bulan 10 pada 221 SM. Pada 104 SM, Kaisar Wu yang memerintah sewaktu Dinasti Han menetapkan bulan 1 sebagai awal tahun sampai sekarang

Mitos

Puisi Tahun Baru Cina tulisan tangan ditempel pada pintu ke rumah orang, di Lijiang, Yunnan, Cina.Menurut legenda, dahulu kala, Nián (年) adalah seekor raksasa pemakan manusia dari pegunungan (atau dalam ragam hikayat lain, dari bawah laut), yang muncul di akhir musim dingin untuk memakan hasil panen, ternak dan bahkan penduduk desa. Untuk melindungi diri merka, para penduduk menaruh makanan di depan pintu mereka pada awal tahun. DIpercaya bahwa melakukan hal itu Nian akan memakan makanan yang telah mereka siapkan dan tidak akan menyerang orang atau mencuri ternak dan hasil Panen. Pada suatu waktu, penduduk melihat bahwa Nian lari ketakutan setelah bertemu dengan seorang anak kecil yang mengenakan pakaian berwarna merah. Penduduk kemudian percaya bahwa Nian takut akan warna merah, sehingga setiap kali tahun baru akan datang, para penduduk akan menggantungkan lentera dan gulungan kerta merah di jendela dan pintu. Mereka juga menggunakan kembang api untuk menakuti Nian. Adat-adat pengurisan Nian ini kemudian berkempang menjadi perayaan Tahun Baru. Guo nian , yang berarti “menyambut tahun baru”, secara harafiah berarti “mengusir Nian”.

Sejak saat itu, Nian tidak pernah datang kembali ke desa. Nian pada akhirnya ditangkap oleh Hongjun Laozu, seorang Pendeta Tao dan Nian kemudian menjadi kendaraan Honjun Laozu.
Sejarah
Huang Di
Kalender Tionghoa mulai dikembangkan pada millenium ketiga sebelum masehi, konon ditemukan oleh penguasa legendaris pertama, Huáng Dì, yang memerintah antara tahun 2698 SM – 2599 SM. Dan dikembangkan lagi oleh penguasa legendaris keempat, Kaisar Yao. Siklus 60 tahun (ganzhī atau liushí jiǎzǐ) mulai digunakan pada millennium kedua sebelum masehi. Kalender yang lebih lengkap ditetapkan pada tahun 841sm pada zaman Dinasti Zhou dengan menambahkan penerapan bulan ganda dan bulan pertama satu tahun dimulai dekat dengan titik balik matahari pada musim dingin.

Dinasti Qin
Kalender Sìfēn (empat triwulan), yang mulai diterapkan sekitar tahun 484sm, adalah kalender Tionghoa pertama yang memakai perhitungan lebih akurat, menggunakan penanggalan matahari 365¼ hari, dengan siklus 19 tahun (235 bulan), yang dalam ilmu pengetahuan Barat dikenal sebagai Peredaran Metonic. Titik balik matahari musim dingin adalah bulan pertamanya dan bulan gandanya disisipi mengikuti bulan ke 12. Pada tahun 256sm, kalender ini mulai digunakan oleh negara Qín, kemudian diterapkan di seluruh negeri Cina setelah Qín mengambil alih keseluruhan negeri Cina dan menjadi Dinasti Qín. Kelender ini tetap digunakan sepanjang separuh pertama Dinasti Hàn Barat.

Dinasti Han
Kaisar Wǔ dari Dinasti Han Barat memperkenalkan reformasi kalender baru. Kalender Tàichū (Permulaan Agung) pada tahun 104sm mempunyai tahun dengan titik balik matahari musim dingin pada bulan ke 12 dan menentukan jumlah hari untuk penanggalan bulan (satu bulan 29 atau 30 hari) dan bukan sesuai dengan prinsip terminologi matahari (yang secara keseluruhan sama dengan tanda zodiak). Sebab gerakan matahari digunakan untuk mengkalkulasi Jiéqì (ciri-ciri musim).

Dinasti Tang
Sedangkan pada zaman Dinasti Jin dan Dinasti Tang juga sempat dikembangkan Kalender Dàyǎn dan Huángjí, walaupun tidak sempat dipergunakan. Dengan pengenalan ilmu astronomi Barat ke Cina melalui misi penyebaran agama Kristen, gerakan bulan dan matahari mulai dihitung pada tahun 1645 dalam Kalender Shíxiàn Dinasti Qīng, yang dibuat oleh Misioner Adam Schall.

Cara perhitungan
Kalender Tionghoa memiliki aturan yang sedikit berbeda dengan kalender umum, seperti ; perhitungan bulan adalah rotasi bulan pada bumi. Berarti hari pertama setiap bulan dimulai pada tengah malam hari bulan muda astronomi. (Catatan, “hari” dalam Kalender Tionghoa dimulai dari jam 11 malam dan bukan jam 12 tengah malam). Satu tahun ada 12 bulan, tetapi setiap 2 atau 3 tahun sekali terdapat bulan ganda (rùnyuè, 19 tahun 7 kali). Berselang satu kali jiéqì (musim) tahun matahari Cina adalah setara dengan satu pemulaan matahari ke dalam tanda zodiak tropis. Matahari selalu melewati titik balik matahari musim dingin (masuk Capricorn) selama bulan 11.

Penerapan di masa kini
Penggunaan utama dalam kegiatan sehari-hari adalah menentukan fase bulan, yang penting bagi petani dan dimungkinkan karena setiap hari dalam kalender sesuai dengan fase tertentu dalam suatu bulan. Kalender tradisional Asia Timur lainnya mirip, atau sama, dengan kalender Tionghoa: kalender Korea sama, dalam kalender Vietnam digunakan kucing, bukan kelinci dalam shionya, dan kalender Jepang tradisional menggunakan metode penghitungan yang berbeda, sehingga ada ketidaksesuaian antara kedua kalender itu dalam tahun-tahun tertentu

Sebagai penutup Pesan Hari Raya , Tahun Baru, Imlek :

EMPAT BELAS PEDOMAN HIDUP MANUSIA .
1 . Musuh terutama manusia adalah dirinya sendiri .

2 . Kegagalan terutama manusia adalah kesombongan .

3 . Kebodohan terutama manusia adalah sifat menipu .

4 . Kesedihan terutama manusia adalah iri hati .

5 . Kesalahan terutama manusia adalah mencampakan dirinya .

6 . Dosa terutama manusia adalah menipu dirinya dan orang lain .

7 . Sifat manusia yang terkasihan adalah rasa rendah diri .

8 . Sifat manusia yang paling dapat dipuji adalah semangat keuletannya .

9 . Kehancuran terbesar manusia adalah rasa keputus-asahan .

10 . Harta terutama manusia adalah kesehatan .

11 . Hutang terbesar manusia adalah hutang budi .

12 . Hadiah terutama manusia adalah lapang dada dan mau memaafkan .

13 . Kekurangan terbesar manusia adalah sifat berkeluh-kesah dan tak memiliki kebijaksanaan .

14 . Ketentraman dan kedamaian terutama manusia adalah suka berdana dan beramal .

Entri ini ditulis di Hari Raya dan ber-tag Hari Raya pada 28 Februari 2010.

Hari Raya Nyepi

Umat Hindu memasuki hari raya suci yakni merayakan tahun baru Saka. Prosesi penyambutan tahun baru ini biasa dikenal dengan sebutan Nyepi.
Perayaan keagaaman ini dilakukan penyucian makro dan mikrokosmos untuk mewujudkan kesejahteraan, keseimbangan, dan kebahagiaan lahir batin, terbinanya kehidupan yang berlandaskan kebenaran, kesucian, serta keharmonisan/keindahan.
Artinya, ada upaya maksimal dari makhluk Tuhan untuk memberi sumbangsih tebaik bagi kehidupan ini. Meski dilakukan secara personal dan bersama-sama, dampak nyata dari implikasi religius ini akan terlihat dalam kehidupan sehari-hari selanjutnya. Sebagai Umat beragama, kita semua senantiasa mendapat kewajiban menciptakan sebuah kondisi kehidupan yang bermartabat, jauh dari keburukan fisik maupun jiwa. Berusaha maksimal memberi yang terbaik, dimaksudkan sebagi kesadaran bermasyarakat yang berketuhanan. Mengutamakan kepentingan umum di atas kepentingan personal. Demikian halnya dengan keseimbangan kehidupan dunia dan kehidupan yang lebih abadi. Nyepi mengintrodusir kita kepada sebuah cita-cita kebahagiaan lahir batin di atas prinsip kejujuran, kesucian jiwa raga.
Dengan begitu, Nyepi mengantarkan manusia pada sifat dasar kemanusiaan untuk mencintai kebenaran dan kesucian. Bila ini terpatri dan teraktualisasi pada diri kita, maka kehidupan harmonis senantiasa dapat kita temukan dan rasakan setiap saat. Semua doa yang dipanjatkan kepada Yang Maha Suci, diharapkan pula menginspirasi seluruh makhluk di bumi ini untuk memberikan kebaikan-kebaikan, menghindari keburukan dan perbuatan destruktif. Seluruh kejahatan kepada kemanusiaan maupun alam, menjadi musuh bersama dan selanjutnya berjuang tanpa henti untuk menegakkan kebenaran dan kejujuran.
Segala tahapan upacara, diharapkan memberi berkah bagi kehidupan ini. Memberi kekuatan kepada seluruh manusia di bumi agar senantiasa mengedepankan kedamaian, perdamaian, dan penghargaan bersesama sebagai manusia. Harmonisasi manusia dan alam, sesungguhnya merupakan salah satu inti dari cita-cita hidup di bumi. Itulah sebabnya, tahun baru Saka 1932 dipandang sangat bermakna
sebagai bagian dari momentum menumbuhkan kembali sisi kemanusiaan kita yang sebenarnya; mencintai kebenaran dan kedamaian lahir batin.
Kita mulai lagi mengumpulkan kekuatan memerangi kejahatan-kejahatan, tidak hanya melalui simbol-simbol roh jahat, melainkan juga kejahatan sesungguhnya yang kasat mata. Mari kita mengatakan tidak pada korupsi, pada terorisme, pada pembiaran kemiskinan, pada ketidakberesan pelayanan publik, pada ketidakpedulian kita atas kesulitan orang lain, dan pada seluruh keadaan dimana hal itu berpotensi merusak keindahan serta kedamaian hidup.
Mari kita lawan amarah, kita bungkam kebiasaan jelek, mengedepankan kesantunan. Mari kita munculkan kemuliaan dan menebarkan kebaikan-kebaikan meskipun skalanya relatif kecil. Sejarah telah mengajarkan kepada kita, bahwa perubahan-perubahan besar yang terjadi di dunia ini sesungguhnya berasal dari langkah-langkah kecil perubahan yang kita lakukan secara sadar dan berkesinambungan. Karena itu, sekali lagi, marilah kita jadikan momentum Hari Raya Nyepi ini sebagai wahana memperbaiki diri demi perbaikan kehidupan seluruh makhluk termasuk manusia.
Semoga hari-hari selanjutnya kita semua dapat memadamkan amarah dan tidak justru mengobarkan hawa nafsu, menyeimbangkan aktivitas jasmani dan rohani, menyucikannya dalam kerja-kerja sosial. Demikian pula, secara personal tidak mengobarkan kesenangan semata, melainkan turut meningkatkan kegiatan penyucian diri dengan berdoa kepada Sang Maha Suci.
Selamat Hari Raya Nyepi Saka 1932. (^^)

Entri ini ditulis di Hari Raya dan ber-tag Hari Raya pada 16 Maret 2010.

Hari raya Waisak

Pada puncak perayaan Tri Suci Waisak 2011 di Candi Borobudur, Magelang, Jawa Tengah, Selasa, 17 Mei 2011

Hari raya Waisak atau Waisaka merupakan hari suci agama Buddha. Hari Waisak juga dikenal dengan nama Visakah Puja atau Buddha Purnima di India, Saga Dawa di Tibet, Vesak di Malaysia, dan Singapura, Visakha Bucha di Thailand, dan Vesak di Sri Lanka. Nama ini diambil dari bahasa Pali “Wesakha”, yang pada gilirannya juga terkait dengan “Waishakha” dari bahasa Sanskerta.[1] Di beberapa tempat disebut juga sebagai “hari Buddha”.

Trisuci-Waisak2 w
Dirayakan dalam bulan Mei pada waktu terang bulan (purnama sidhi) untuk memperingati 3 (tiga) peristiwa penting, yaitu :
Lahirnya Pangeran Siddharta di Taman Lumbini di tahun 623 S.M.,
Pangeran Siddharta mencapai Penerangan Agung dan menjadi Buddha di Buddha-Gaya (Bodhgaya) pada usia 35 tahun di tahun 588 S.M.
Buddha Gautama parinibbana (wafat) di Kusinara pada usia 80 tahun di tahun 543 S.M.
Tiga peristiwa ini dinamakan “Trisuci Waisak”. Keputusan merayakan Trisuci ini dinyatakan dalam persidangan pertama Persaudaraan Buddhis Sedunia (World Fellowship of Buddhists – WFB) di Sri Langka pada tahun 1950. Perayaan ini dilakukan pada purnama pertama di bulan Mei.
Waisak sendiri adalah nama salah satu bulan dalam penanggalan India Kuna.
Perayaan Hari Waisak di Indonesia mengikuti keputusan WFB. Secara tradisional dipusatkan secara nasional di komplek Candi Borobudur, Magelang, Jawa Tengah.
Rangkaian perayaan Waisak nasional secara pokok adalah sebagai berikut:[2]
Pengambilan air berkat dari mata air (umbul) Jumprit di Kabupaten Temanggung dan penyalaan obor menggunakan sumber api abadi Mrapen, Kabupaten Grobogan.
Ritual “Pindatapa”, suatu ritual pemberian bahan makanan kepada para biksu oleh masyarakat (umat) untuk mengingatkan bahwa para biksu mengabdikan hidupnya hanya untuk berpuja bakti tanpa melakukan mata pencaharian.
Semadi pada detik-detik puncak bulan purnama. Penentuan bulan purnama ini adalah berdasarkan perhitungan falak, sehingga puncak purnama dapat terjadi pada siang hari.
Selain tiga upacara pokok tadi dilakukan pula pradaksina, pawai, serta acara kesenian

Dalam tradisi penganut Buddha Mahayana, hari ini berasal dari nama Sansekertanya, वैशाख (Vaiśākha). Hari ini dikenal dengan nama Vesak atau Wesak (衛塞節).

Waisak juga dikenal dengan :

  • बुद्ध पुर्णिमा/Buddha Purnima atau बुद्ध जयंती/Buddha Jayanti in India, Bangladesh dan Nepal
  • 花祭 (Hanamatsuri) di Jepang,
  • 석가 탄신일 Seokka Tanshin-il (Hanja: 釋迦誕身日) di Korea,
  • 佛誕 (Mandarin: Fódàn, Kantonis: Fātdàahn) di komunitas berbahasa Cina,
  • Phật Đản di Vietnam,
  • Saga Dawa (sa ga zla ba) di Tibet,
  • Visak Bochéa di Khmer,
  • วันวิสาขบูชา Visakah Puja (atau Visakha Bucha) di Thai,
  • Vesak (Wesak) di Sri Lanka dan Malaysia.

Api abadi Mrapen adalah sebuah kompleks yang terletak di desa Manggarmas, kecamatan Godong, Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah. Kawasan ini terletak di tepi jalan raya Purwodadi – Semarang, berjarak 26 km dari kota Purwodadi. Kompleks api abadi Mrapen merupakan fenomena geologi alam berupa keluarnya api dari dalam tanah yang tidak pernah padam walaupun turun hujan sekalipun.
Banyak peristiwa besar mengambil api dari kompleks api abadi Mrapen sebagai sumber obornya, misalnya pesta olahraga internasional Ganefo I tanggal 1 November 1963. Api abadi dari Mrapen juga digunakan untuk menyalakan obor Pekan Olahraga Nasional (PON) mulai PON X tahun 1981, POR PWI tahun 1983 dan HAORNAS. Api abadi dari Mrapen juga digunakan untuk obor upacara hari raya Waisak.
Selain api abadi, di komplek tersebut juga terdapat kolam dengan air mendidih yang konon dapatdipergunakan untuk mengobati penyakit kulit, serta batu bobot yang konon apapbila seseorang dapat mengangkatnya maka yang mengangkat tersebut akan mendapatkan keinginannya
.

Mahayana (berasal dari bahasa Sansekerta: महायान, mahāyāna yang secara harafiah berarti ‘Kendaraan Besar’) adalah satu dari dua aliran utama Agama Buddha dan merupakan istilah pembagian filosofi dan ajaran Sang Buddha. Mahayana, yang dilahirkan di India, digunakan atas tiga pengertian utama:

  1. Sebagai tradisi yang masih berada, Mahayana merupakan kumpulan terbesar dari dua tradisi Agama Buddha yang ada hari ini, yang lainnya adalah Theravada. Pembagian ini seringkali diperdebatkan oleh berbagai kelompok.
  2. Menurut cara pembagian klasifikasi filosofi Agama Buddha berdasarkan aliran Mahayana, Mahayana merujuk kepada tingkat motifasi spiritual[1] (yang dikenal juga dengan sebutan Bodhisattvayana [2]) Berdasarkan pembagian ini, pendekatan pilihan yang lain disebut Hinayana, atau Shravakayana. Hal ini juga dikenal dalam Ajaran Theravada, tetapi tidak dianggap sebagai pendekatan yang sesuai.[3]
  3. Menurut susunan Ajaran Vajrayana mengenai pembagian jalur pengajaran, Mahayana merujuk kepada satu dari tiga jalan menuju pencerahan, dua lainnya adalah Hinayana dan Vajrayana. Pembagian pengajaran dalam Agama Buddha Vajrayana, dan tidak dikenal dalam ajaran Agama Buddha Mahayana dan Theravada.

Walaupun asal-usul keberadaan Mahayana mengacu pada Buddha Gautama, para sejarawan berkesimpulan bahwa Mahayana berasal dari India pada abad ke 1,[4], atau abad ke 1 SM. [5][6] Menurut sejarawan, Mahayana menjadi gerakan utama dalam Agama Buddha di India pada abad ke 5, mulai masa tersebut naskah-naskah Mahayana mulai muncul pada catatan prasasti di India. [7] Sebelum abad ke 11 (ketika Mahayana masih berada di India), Sutra-sutra Mahayana masih berada dalam proses perbaikan. Oleh karena itu, beragam sutra dari sutra yang sama mungkin muncul. Terjemahan-terjemahan ini tidak dianggap oleh para sejarawan dalam membentuk sejarah Mahayana.

Dalam perjalanan sejarahnya, Mahayana menyebar keseluruh Asia Timur. Negara-negara yang menganut ajaran Mahayana sekarang ini adalah Cina, Jepang, Korea dan Vietnam dan penganut Agama Buddha Tibet (etnis Himalaya yang diakibatkan oleh invasi Cina ke Tibet). Aliran Agama Buddha Mahayana sekarang ini adalah “Pure Land”, Zen, Nichiren, Singon, Tibetan dan Tendai. Ketiga terakhir memiliki aliran pengajaran baik Mahayana maupun Vajrayana.

Borobudur adalah nama sebuah candi Buddha yang terletak di Borobudur, Magelang, Jawa Tengah. Lokasi candi adalah kurang lebih 100 km di sebelah barat daya Semarang dan 40 km di sebelah barat laut Yogyakarta. Candi ini didirikan oleh para penganut agama Buddha Mahayana sekitar tahun 800-an Masehi pada masa pemerintahan wangsa Syailendra. Dalam etnis Tionghoa, candi ini disebut juga 婆羅浮屠 (Hanyu Pinyin: pó luó fú tú) dalam bahasa Mandarin

Penetapan hari besar Islam

Penetapan hari-hari besar Islam di Negri kita ini berbeda2 disebabkan peraturan yang dibuat oleh pemerintah tidak melarang adanya perbedaan penetapan hari-hari besar tersebut, lain halnya di Negara Saudi Arabia,
Pemerintah Saudi Arabia yang menetapkan hari-hari Besar Islam dan melarang adanya penetapan selain yang telah ditetapkan oleh Pemerintah.
Salah satu contoh : Penetapan hari Wukuf di Arafah jatuh pada 9 Dzulhijjah dan Idhul Adha jatuh pada 10 Dzulhijjah. Panetapan ini tidak boleh diinterpretasi lain dengan perkataan lain bahwa Ibadah Wukuf di Arafah harus pada 9 Dzulhijjah titik, coba bayangkan kalau ada yang menginterpretasi lain tentang kapan seharusnya pelaksanaan ibadah wukuf tersebut, berjuta-juta umat Islam dari seluruh penjuru dunia akan kebingungan.begitu juga di dengan penetapan hari besar lainnya seperti idul Adha ditetapkan oleh pemerintah Arab Saudi.dan berlaku di Saudi Arabia.

Indonesia Ingin Tampil beda ???
Lain halnya kita di Indonesia , Ibadah Idhul Adha oleh pemerintah ditetapkan pada 10  Dzulhijjah yang pada 1431 H jatuh pada hari Rabu Tanggal 17 November 2010, tetapi Pemerintah tidak melarang ibadah Idhul Adha yang juga dikenal dengan Idhul Qurban dilaksanakan selain tanggal 10 Dzulhijjah. Akibatnya pelaksanaan Idhul Qurban dilaksanakan 3 hari mulai hari senin, selasa dan rabu. malah ada yang melaksanakan sebelum hari2 tersebut.
Mudah2an perbedaan ini menjadi landasan kebersamaan ummat Islam di Indonesia dalam melaksanaan Ibadahnya, tidak kebablasan yang mendasari hanya karena mau tampil beda, seperti banyak contoh yang pernah kita dengar atau lihat dimedia publikasi.
Beberapa contoh menurut saya hanya karena ingin tampil beda:
Pertengahan tahun 2010, Media masa pernah dihebohkan karena ada seorang/Golongan Anggota DPR ingin menerapkan adanya pemeriksaan keperawanan bagi calon siswa , tutur bahasanya bersahaja, masuk akal, logikanya benar, penampilannya serius,maksudnya sih baik?, kelihatannya patuh menjadi contoh suri tauladan atau panutan, tetapi menurut saya (curiga bukan menuduh) mereka itu kurang memiliki sifat kepemimpinan yang Adil (jujur), Amanah, Cerdas dan Komunikatif malah sebaliknya, Munafik, Culas dan Bodoh, Kenapa???.
Mereka tidak pernah memikirkan bahwa Siswi yang tidak perawan lagi bukan karena keinginannya, musibah yang dialami si-siswi karena ketidak tahuannya, pergaulan bebas/kurangnya pendidikan moral atau mungkin karena faktor ekonomi/ kemiskinan. Kalau mau jujur sebenarnya yang salah adalah Orang Tuanya, Gurunya, sekelilingnya, pemerintahnya yang banyak korupsi mengambil uang Negara/Rakyat.cukuplah si-siswi tadi telah dihukum dengan status sosialnya yang tidak perawan lagi, dan tidak perlu dibebankan lagi persoalan karena tidak perawan akhirnya tidak bisa melanjutkan sekolah.
Seandainya (berandai-andai) peraturan tersebut diberlakukan dan salah seorang anggota keluarganya yang tidak perawan ingin melanjutkan sekolahnya, sebagai orang tua yang punya kuasa di zaman sekarang ini pastilah dilampirkan uang pelicin atau katabelece..dpl bahwa peraturan tersebut menjadi lahan subur bagi para Koruptor�
bersambung…..

Sumber Forum Komunitas Muslim Indonesia

Selamat Datang Tahun Hijriah

Selamat Datang Tahun 1432 Hijriah

Penamaan hijriah sebagai penanggalan Islam, diambil dari momentum hijrah Rasulullah saw dan para pengikutnya, dari kota Mekkah ke Medinah. Momentum itu pulalah yang hendak diingat-ingat kembali oleh kaum Muslimin agar semangat perjuangan menuju ridha Allah senantiasa terjaga.

Bagi seorang pemimpin, sebagaimana Rasulullah meneladankannya kepada kita, maka hijrah adalah manifestasi amanah, aktualisasi kepedulian dan tanggung jawab sosial terhadap eksistensi rakyatnya.

Semangat dedikasi dan keinginan kuat menyelamatkan umat dari keterpurukan dan perselisihan terus-menerus, melalui perpindahan geografis dari Mekkah ke Medinah, merupakan upaya membangun sebuah masyarakat madani yang baru. Perpindahan fisik tersebut sejatinya menuju perpindahan ideologis-religius.

Membumikan keyakinan yang asing pada masanya, sebuah sikap kukuh ketauhidan, ber-Tuhan-kan Allah Yang Esa. Atas perintah Allah pulalah, Rasulullah membawa umatnya ke Medinah membentuk tatanan masyarakat baru. Alhasil, dalam waktu yang cukup singkat, masyarakat baru tersebut berkembang begitu pesat.

Hidup bersama sebagai sebuah masyarakat baru, saling menyayangi atas nama kemanusiaan. keikhlasan dalam hubungan bersesama, merupakan pola interaksi kaum Muhajirin (pendatang) dan Anshar (tuan rumah). Upaya keras menuju sebuah masyarakat sejahtera, berlandaskan sifat tolong-menolong, saling menghargai dan tenggang rasa adalah pesan Muharram yang seyogianya menjadi titik tolak hidup bermasyarakat modern saat ini.

Apalagi bila memperhatikan betapa individualisnya manusia perkotaan. Bahwa urusan masing-masing sering kali diterjemahkan sebagai keterpisahan hubungan kemanusiaan satu sama lain. Interaksi kerap menjadi sangat transaksional. Ada uang ada barang. Pragmatis.

Islam tidak mengedepankan simbolisme, sebagaimana 1 Muharram sebagai momentum peralihan tahun hijriah, melainkan dengan aksi nyata. Jika tahun ini banyak sekali bencana menimpa saudara-saudara kita, maka sesungguhnya itu merupakan “alarm” bagi umat Islam lainnya untuk membantu.

Bukankah dalam dalam hijrah Nabi Muhammad saw, kaum Anshar dengan sangat ikhlas dan terbuka menyambut kaum Muhajirin dari Mekkah. Bahkan sampai pada penyiapan rumah dan kebutuhan pokoknya. Contoh ini mengisyaratkan kuatnya kepedulian mereka atas diri orang lain.

Oleh sebab itu, sangat pantas bila dalam momentum tahun baru 1432 Hijriah ini kita semua berani introspeksi diri (muhasabah), menakar-nakar, merenung etape hidup sepanjang tahun. Apakah secara individual keimanan kita kian bertambah hingga satu tahun berlalu. Apakah kita siap untuk sebuah tantangan baru, mensyukuri usia yang ada dengan meningkatkan keimanan kita kepada-Nya. Selamat tahun baru 1432 hijriah. Semoga hari esok makin lebih baik.

Tulisan terkait :Renungan Tahun Baru Islam 1432 H (1 Muharram 1432 H)

Dengan apa akan kau pahami jika tak bisa membedakan mana terang mana gelap kehidupan. Di awal kertas kosong hijriyah ini, tak ada salahnya kita mulai membuat coretan yang lebih bermakna dari pada lembar kertas yang sudah terjejali dengan berbagai macam kemunafikan duniawi. Awal yang baik akan membawa kebaikan untuk jalan selanjutnya.

Selamat Tahun Baru Islam, 1 Muharam 1432 H

Baca literaturterkait :

  • Sejara-singkat-tahun-hijriyah
  • Sejarah-tahun-hijriyah

Hari Raya Idul Adha , Idul Qurban, Haji

Idul Adhadan peristiwa kurban yang setiap tahun dirayakan umat muslim di dunia seharusnya tak lagi dimaknai sebatas proses ritual, tetapi juga diletakkan dalam konteks peneguhan nilai-nilai kemanusiaan dan spirit keadilan, sebagaimana pesan tekstual utama agama.Kurban dalam bahasa Arab sendiri disebut dengan qurbah yang berarti mendekatkan diri kepada Allah. Dalam ritual Idul Adha itu terdapat apa yang biasa disebut udlhiyah (penyembelihan hewan kurban). Pada hari itu kita menyembelih hewan tertentu, seperti domba, sapi, atau kerbau, guna memenuhi panggilan Tuhan.
Idul Adha juga merupakan refleksi atas catatan sejarah perjalanan kebajikan manusia masa lampau, untuk mengenang perjuangan monoteistik dan humanistik yang ditorehkan Nabi Ibrahim. Idul Adha bermakna keteladanan Ibrahim yang mampu mentransformasi pesan keagamaan ke aksi nyata perjuangan kemanusiaan."berkurban"

Dalam konteks ini, mimpi Ibrahim untuk menyembelih anaknya, Ismail, merupakan sebuah ujian Tuhan, sekaligus perjuangan maha berat seorang Nabi yang diperintah oleh Tuhannya melalui malaikat Jibril untuk mengurbankan anaknya. Peristiwa itu harus dimaknai sebagai pesan simbolik agama, yang menunjukkan ketakwaan, keikhlasan, dan kepasrahan seorang Ibrahim pada titah sang pencipta.

Bagi Ali Syari’ati (1997), ritual kurban bukan cuma bermakna bagaimana manusia mendekatkan diri kepada Tuhannya, akan tetapi juga mendekatkan diri kepada sesama, terutama mereka yang miskin dan terpinggirkan. Sementara bagi Jalaluddin Rakhmat (1995), ibadah kurban mencerminkan dengan tegas pesan solidaritas sosial Islam, mendekatkan diri kepada saudara-saudara kita yang kekurangan.
Dengan berkurban, kita mendekatkan diri kepada mereka yang fakir. Bila Anda memiliki kenikmatan, Anda wajib berbagi kenikmatan itu dengan orang lain. Bila Anda puasa, Anda akan merasa lapar seperti mereka yang miskin. Ibadah kurban mengajak mereka yang mustadh’afiin untuk merasakan kenyang seperti Anda.
Atas dasar spirit itu, peringatan Idul Adha dan ritus kurban memiliki tiga makna penting sekaligus. Pertama, makna ketakwaan manusia atas perintah sang Khalik. Kurban adalah simbol penyerahan diri manusia secara utuh kepada sang pencipta, sekalipun dalam bentuk pengurbanan seorang anak yang sangat kita kasihi."idul ahda"Kedua, makna sosial, di mana Rasulullah melarang kaum mukmin mendekati orang-orang yang memiliki kelebihan rezeki, akan tetapi tidak menunaikan perintah kurban. Dalam konteks itu, Nabi bermaksud mendidik umatnya agar memiliki kepekaan dan solidaritas tinggi terhadap sesama. Kurban adalah media ritual, selain zakat, infak, dan sedekah yang disiapkan Islam untuk mengejewantahkan sikap kepekaaan sosial itu.

Ketiga, makna bahwa apa yang dikurbankan merupakan simbol dari sifat tamak dan kebinatangan yang ada dalam diri manusia seperti rakus, ambisius, suka menindas dan menyerang, cenderung tidak menghargai hukum dan norma-norma sosial menuju hidup yang hakiki.

Bagi Syari’ati, kisah penyembelihan Ismail, pada hakikatnya adalah refleksi dari kelemahkan iman, yang menghalangi kebajikan, yang membuat manusia menjadi egois sehingga manusia tuli terhadap panggilan Tuhan dan perintah kebenaran. Ismail adalah simbolisasi dari kelemahan manusia sebagai makhluk yang daif, gila hormat, haus pangkat, lapar kedudukan, dan nafsu berkuasa. Semua sifat daif itu harus disembelih atau dikorbankan.
Pengorbanan nyawa manusia dan harkat kemanusiaannya jelas tidak dibenarkan dalam ajaran Islam dan agama mana pun. Untuk itu, Ibrahim tampil menegakkan martabat kemanusiaan sebagai dasar bagi agama tauhid, yang kemudian dilanjutkan oleh Nabi Muhammad dalam ajaran Islam. Ali Syari’ati mengatakan Tuhan Ibrahim itu bukan Tuhan yang haus darah manusia, berbeda dengan tradisi masyarakat Arab saat itu, yang siap mengorbankan manusia sebagai “sesaji” para dewa.
Ritual kurban dalam Islam dapat dibaca sebagai pesan untuk memutus tradisi membunuh manusia demi “sesaji” Tuhan. Manusia, apa pun dalihnya, tidak dibenarkan dibunuh atau dikorbankan sekalipun dengan klaim kepentingan Tuhan. Lebih dari itu, pesan Iduladha (Kurban) juga ingin menegaskan dua hal penting yang terkandung dalam dimensi hidup manusia (hablun minannas).
Pertama, semangat ketauhidan, keesaan Tuhan yang tidak lagi mendiskriminasi ras, suku atau keyakinan manusia satu dengan manusia lainnya. Di dalam nilai ketauhidan itu, terkandung pesan pembebasan manusia dari penindasan manusia lainnya atas nama apa pun. Kedua, Idul Adha juga dapat diletakkan dalam konteks penegakan nilai-nilai kemanusiaan, seperti sikap adil, toleran, dan saling mengasihi tanpa dilatarbelakangi kepentingan-kepentingan di luar pesan profetis agama itu sendiri.
Masalahnya, spirit kemanusiaan yang seharusnya menjadi tujuan utama Islam, dalam banyak kasus tereduksi oleh ritualisme ibadah-mahdah. Seakan-akan agama hanya media bagi individu untuk berkomunikasi dengan Tuhannya, yang lepas dari kewajiban sosial-kemanusiaan. Keberagamaan yang terlalu teosentris dan sangat personal itu, pada akhirnya terbukti melahirkan berbagai problem sosial dan patologi kemanusiaan.
Alquran menganjurkan kita agar mengikuti agama Ibrahim yang hanif, lurus dan tidak menyimpang. Selain hanif, agama Ibrahim juga agama yang samaahah, yang toleran terhadap manusia lain. Pesan kurban harus mampu menjawab persoalan nyata yang dihadapi umat, seperti perwujudan kesejahteraan, keadilan, persaudaraan, dan toleransi. Sulit membayangkan jika banyak umat yang saleh secara ritual, khusyuk dalam berdoa, dan rajin berkurban, tetapi justru paling tak peduli pada tampilnya kemungkaran.
Sekaranglah saatnya kita mewujudkan penegakan solidaritas dan keadilan sosial sebagaimana diajarkan Nabi Ibrahim, dan membumikan ajaran Ismail sebagai simbol penegakan nilai-nilai ketuhanan di tengah-tengah kehidupan umat manusia yang kian individual, pragmatis, dan menghamba pada materi. Karena, seperti kata Rabindranath Tagore (1985), Tuhanmu ada di jalan di mana orang menumbuk batu dan menanami kebunnya, bukan di kuil yang penuh asap dupa dan gumaman doa para pengiring yang sibuk menghitung lingkaran tasbih.
dikutip dari lampung pos
SELAMAT HARI RAYA IDUL ADHA 1435 H
MOHON MAAF LAHIR DAN BATIN
Shakehand2Shakehand2Shakehand2

Sumber : dari sini

Tahun Baru Islam

Hari ini Hari bertepatan dengan tanggal bulan tahun adalah tanggal 1 Muharram untuk kelender Hijriyah tahun H. Sebagai ummat Islam saya mengenang tahun baru Hijriyah sebagai tahun yang sangat bersejarah dalam perjalanan dakwah Nabi Muhammad SAW menyebarkan agama IslamDakwah nabi atau ajakan Nabi untuk menyelamatkan ummat waktu dari bathil menadi haq adalah sebuah perjuangan yang bukan tanpa tantangan. Tantangannya sangat berat. Tantangan Nabi dalam menyebarkan ajaran Islam tidak hanya datang dari orang-orang yang jauh dari beliau, tapi bahkan tantangan tersebut datang dari orang – orang yang nota bene sangat dekat secara kekeluargaan. Termasuk paman beliau yang sangat menentang terhadap ajaran Islam adalah Abu Jahal dan Abu Lahab. Dakwah adalah sebuah ajakan. Ditolak oleh yang bukan keluarga ketika kita ajak, mungkin masih bisa kita tahan untuk sabar. Tapi kalau sudah keluarga yang menolak ketika kita ajak untuk beragama Islam, maka itu adalah sebuah tantangan yang sangat berat.

Momentum Hijriyah adalah sebuah fakta sejarah yang patut kita teladani. Kesabaran Nabidalam menghadapi berbagai tantangan dakwah perlu kita jadikan pelajaran bahwa memang tidak mudah mengajak orang untuk ikut sesuai dengan keinginan kita. Perlu ketegaran dan kegigihan untuk melaksanakannya. Di antara tantangan yang sangat berat waktu itu adalah blokade orang kafir terhadap Nabi dan para sahabat beliau. Istilah sekarang embargo di segala bidang dilakukan oleh orang kafir untuk menghambat dakwah Nabi. Tiga tahun ( kalau tidak salah ) Nabi dan para sahabatnya tidak bisa berhubungan dengan dunia luar baik secara ekonomi, persediaan makanan dan lain-lain. Yang sangat memperihatinkan Nabi dan para sahabat waktu hanya bisa makan dedaunan. Subhanallah. Jika bukan karena perintah Allahdan jika hati Nabi seperti kita kita ini, maka mungkin agama Islam tidak akan datang ke tempat, ke negeri Indonesia, kita sekarang ini. Kemudian datanglah perintah Allah untuk hijrah. Hijrah artinya pindah dari tempat yang tidak aman menuju tempat yang lebih aman agar dakwah akan terus berjalan.

Bila mengenang ini semua sangat besar tantangan Nabi dalam menyebarkan Islam. Sudah sepantasnya bagi ummat Islam untuk selalu mengingat beliau. Mengenang tahun hijrahnya dengan cara melaksanakan perintah-perintahnya dan menjauhi larangan-larangannya. Juga dengan cara membacakan shalawat untuk Nabi. Shalawat dan salam kita hadiahkan untuk Nabi yang telah sukses membawa agama Islam ke tengah-tengah kita, ke tengah keluarga kita dan ke tengah-tengah negeri kita Indonesia. Mungkin hanya shalawat yang bisa kita hadiahkan untuk Nabi Muhammad SAW. Jika mengingat jasa beliau yang telah membawa keselamatan, Islam, maka berapapun shalawat yang kita kumandangkan tidak akan sebanding. Adalah sangat memperihatinkan jika berbagai pihak mengatakan bahwa membaca perintah shalawat adalah dalam rangka menyelamatkan Nabi Muhammad SAW dari api neraka. Bukan. Sekali lagi bukan itu. Membaca shalawat adalah perintah Allah. Maka kita wajib patuh dan tunduk.

Selamat tahun baru Hijriyah . Semoga di masa mendatang, masa depan, Allah akan memberikan jalan yang lebih luas, rizki lebih luas dan ilmu lebih luas. Tak lupa juga kepada rekan blogger dan siapapun juga yang pernah berkunjung dan membaca blog, saya ucapkan mohon lahir dan batin.