Category Archives: Hidupkan Hatimu

Hukum Menggunakan Kata “Seandainya”

Hukum Menggunakan Kata “Seandainya..”
Tentang seorang yang mengatakan: Seandainya dahulu Anda dahulu melakukan begini, tentu tidak akan terjadi demikian.”
Orang lain yang mendengarnya berujar: “Kata-kata semacam itu sudah dilarang oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Itu kata-kata yang dapat mengiring orang yang mengucapkannya kepada kekufuran.”
Lalu ada lagi yang bilang: “Tetapi dalam kisah tentang Musa dan Khidir, Nabi pernah bersabda: “Semoga Allah memberi rahmat kepada Musa. Kalaulah beliau mau bersabar, tentu Allah akan menceritakan kepada kita lanjutan kisah mereka..”
Orang yang lain lagi berdalil dengan sabda Rasulullah: “Mukmin yang kuat itu lebih baik dari mukmin yang lemah,” hingga ucapan: “…karena kata “seandainya” itu membuka amalan syetan.” Apakah hukum dalam hadits ini menghapus hukum dalam kisah Musa di atas atau tidak?

Semua yang dikatakan oleh Allah dan Rasul-Nya itu benar. Kata ‘seandainya’ itu Apabila digunakan sebagai ungkapan kesedihan menyesali yang telah lampau dan kecewa terhadap takdir, itulah yang dilarang, sebagaimana dalam firman Allah:

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu seperti orang-orang kafir (orang-orang munafik) itu, yang mengatakan kepada saudara-saudara mereka apabila mereka mengadakan perjalanan di muka bumi atau mereka berperang:”Kalau mereka tetap bersama-sama kita tentulah mereka tidak mati dan tidak dibunuh”. Akibat (dari perkataan dan keyakinan mereka) yang demikian itu, Allah menimbulkan rasa penyesalan yang sangat di dalam di hati mereka..” (Ali Imraan : 156)

Itulah yang dilarang oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika beliau bersabda:
“Kalau engkau tertimpa musibah, janganlah engkau mengatakan: “Kalau tadi aku lakukan begini, tentu jadinya akan begini dan begini..”. Tapi katakanlah: “Sudah takdir Allah, Allah melakukan apa saja yang Dia kehendaki. Karena kata “seandainya,” itu membuka pintu amalan syetan (yakni akan membuka pintu kesedihan dan kekecewaan. Yang demikian itu hanya berbahaya dan tidak bermanfaat. Tapi ketahuilah, bahwa apa saja yang menimpamu tidak akan pernah meleset. Dan segala yang meleset tidak akan pernah menimpamu. Allah berfirman:

“Tidak ada sesuatu musibahpun yang menimpa seseorang kecuali denga izin Allah; Dan barang siapa yang beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya..” (At-Taghaabun : 11)

Para ulama menjelaskan bahwa yang dimaksud dalam ayat itu adalah seseorang yang tertimpa satu musibah lalu ia menyadari bahwa musibah itu berasal dari Allah, sehingga ridha dan berserahdiri.

Yang kedua, penggunaan kata “seandainya,” untuk menjelaskan satu pengetahuan yang bermanfaat. Seperti firman Allah:

Sekiranya ada di langit dan di bumi ilah-ilah selain Allah, tentulah keduanya itu sudah rusak binasa..” (Al-Anbiya : 22)

Atau untuk menunjukkan kecintaan terhadap perbuatan baik dan keinginan melakukannya. Seperti ucapan:”Kalau saja aku memiliki apa yang dimiliki oleh Fulan, tentu aku akan melakukan apa yang dia lakukan..” dan sejenisnya. Ungkapan semacam itu boleh-boleh saja. Adapun sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Kalaulah beliau mau bersabar, tentu Allah akan menceritakan kepada kita lanjutan kisah mereka..” Itu termasuk jenis yang kedua. Seperti juga firman Allah:

“Maka mereka menginginkan supaya kamu bersikap lunak lalu mereka bersikap lunak (pula kepadamu..” (Al-Qalam : 3)

Sesungguhnya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam akan senang dapat mencerikan kisah kedua Nabi itu. Maka beliau mengutarakan dengan kata-kata itu untuk menjelaskan kesenangan beliau bila kesabaran yang seandainya dilakukan Musa kala itu. Beliau memberitahukan manfaat yang ada dalam kesabaran itu. Tak ada unsur kekecewaan dan kesedihan dalam unggkapan beliau, juga tidak meninggalkan kewajiban bersabar terhadap takdir..Wallahu A’lam.

Majmu’ Al-Fatawa Ibnu Taimiyyah IX : 1033
Iklan

Dua Kalimat Ringan Tapi Sangat Dicintai Allah dan Berat Pada Timbangan

Oleh: Badrul Tamam

سُبْحَانَ اللَّهِ وبِحَمْدِهِ – سُبْحَانَ اللَّهِ الْعَظِيمِ

Subhaanallaahi Wa Bihamdihi Subhaanallaahil ‘Adzim

“Maha Suci Allah dan segala puji untuk-Nya, Maha Suci Allah Yang Maha Agung.”

Sumber Zikir

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu, ia berkata: Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda,

كَلِمَتَانِ خَفِيفَتَانِ عَلَى اللِّسَانِ ثَقِيلَتَانِ فِي الْمِيزَانِ حَبِيبَتَانِ إِلَى الرَّحْمَنِ : سُبْحَانَ اللَّهِ ، وبِحَمْدِهِ سُبْحَانَ اللَّهِ الْعَظِيمِ

“Dua kalimat yang ringan diucapkan lisan, berat ditimbangan, dan dicintai oleh Al-Rahman (Allah): Subhaanallaahi Wa Bihamdihi Subhaanallaahil ‘Adzim.” (HR. Muttafaq ‘Alaih)

Keterangan

Tiga sifat yang disematkan pada zikir di atas. Pertama, disifati dengan “Ringan diucapkan lisan” karena ia mudah dan tidak berat. Sangat ringan diucapkan oleh lisan karena sedikitnya jumlah hurufnya. Huruf-hurufnya juga terdiri dari huruf-huruf yang memiliki tempat keluar yang mudah. Tidak ada huruf yang berat diucapkan. Sehingga ringan diucapkan.

Kedua, disifati dengan “berat ditimbangan”, yakni benar-benar berat saat ditimbang di akhirat karena banyaknya pahala yang diberikan kepada orang yang mengucapkannya. Nilai kebaikannya dilipatgandakan bagi yang mau menzikirkannya.

Ketiga, disifati dengan “sangat dicintai oleh Al-Rahman”, yakni kedua kalimat zikir tersebut sangat dicintai oleh Allah. Tentunya, orang yang mengucapkannya juga dicintai oleh-Nya. Berarti dua kalimat zikir ini merupakan salah satu sebab turunnya cinta Allah kepada hamba.

Dipilihnya nama Allah “Al-Rahman”  menunjukkan, bahwa hadits ini menerangkan luasnya rahmat Allah kepada hamba-Nya. Dia membalas amal yang sedikit dengan pahala yang besar.

Makna Subhaanallaahi Wa Bihamdihi: Menyucikan Allah Ta’ala dari semua yang tidak pantas untuk-Nya, seperti aib dan kekurangan. Berkonsekuensi, meniadakan sekutu (pathner), pasangan hidup, anak dan semua yang tidak layak disandarkan kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Bahwa Dia Maha sempurna dari semua sisi.

Digandengkannya tasbih dengan pujian menunjukkan kesempurnaan karunia dan pemberian-Nya kepada semua makhluk-Nya. Juga menunjukkan kesempurnaan hikmah, pengetahuan, dan sifat-sifat-Nya yang lain.

Subhanallah al-Adzim berarti Allah pemilik keagungan, kebesaran, keperkasaan, kekuasaan. Tidak ada sesuatu yang kekuasaan, kemampuan, kebijaksanaan, pengetahuan yang lebih agung daripada Allah. Dia maka agung dengan Dzat dan sifat-sifat-Nya.

Dua kalimat zikir di atas mengandung maqam raja’ (pengharapan) dan khauf (Takut). Raja’ terdapat pada sifat pujian yang berupa sanjungan baik atas apa yang Dia perbuat dan sifat-sifat kesempurnaan dan kemuliaan yang disandang-Nya. Sedangkan khauf diperoleh dari makna keagungan, kebesaran, keperkasaan, kekuasaan. Wallahu Ta’ala A’lam.

Penutup

Wahai saudaraku, sesudah mengetahui besarnya pahala dan makna yang terkandung dari dua kalimat zikir ini maka hendaknya kita senantiasa merutinkannya. kita senantiasa membacanya dalam keseharian kita. Karena zikir ini tidak banyak menyita waktu dan tenaga kita. Tidak pula kita harus berkeringat dan mengeluarkan harta yang banyak untuk mengamalkannya.

Subhaanallaahi Wa Bihamdihi Subhaanallaahil ‘Adzim akan memberatkan timbangan kebaikan kita diakhirat sehingga akan termasuk orang yang bahagia. “Barang siapa yang berat timbangan (kebaikan) nya, maka mereka itulah orang-orang yang dapat keberuntungan.” (QS. Al-Mukminun: 102)

Dan adapun orang-orang yang berat timbangan (kebaikan) nya, maka dia berada dalam kehidupan yang memuaskan.” (QS. Al-Qaari’ah: 6-7)

Subhaanallaahi Wa Bihamdihi Subhaanallaahil ‘Adzim akan menyebabkan kita mendapatkan kecintaan Allah. Siapa yang dicintai oleh Allah, maka Allah akan menjaganya dan memberi petunjuk kepada anggota tubuhnya untuk berbuat yang mendatangkan ridha-Nya dan menghindari perkara-perkara yang bisa mendatangkan murka-Nya. Siapa yang dicintai oleh Allah, maka dihapuskan kesalahannya, diampuni dosanya, dan diberi keberkahan dalam hidupnya. Wallahu Ta’ala A’lam. [PurWD/voa-islam.com]

Cinta kasih seorang Ibu

Cinta kasih seorang Ibu (The Great Power Of Mother)

Arti hidup ini diajarkan oleh Ibunda
Mengajariku menjadi manusia
Memberi keteladanan tentang ketegaran hidup
Mengingatkan tentang pentingnya doa
dan selalu mendoakan keselamatan dan kebahagian anak anaknya
Sejuk gemercik air di padang gersang
Basah terasa aliri pipi yang kering
Hangat sentuhannya damai terasa

Kasih sayangnya sehangat mentari pagi
Balaian tangannya selembut angin sutra
Senyum manisnya hiburkan hati nan duka
Pandang matanya tajamkan hatinan suci

Dia..adalah wanita paling berjasa
Sejak kita lahir kedunia dan melangkah ke alam fana

Tiada tandingan budinya dalam kehidupan kita
Yang melahirkan kita, menyusui dan membesarkan kita
Pertaruhkan jiwa raga membela kita semua

Dialah..Ibunda yang selalu mendoakan kita
Dalam keadaan lapang, suka maupun duka

Tutur katanya adalah harapan dan doa
Nasihat yang berguna sepanjang masa
Keredhaannya adalah ridha Ilahi
Kemurkaannya adalah murka Ilahi

[Referensi :  The Great Power of Mother  pada clipart80.wordpress]

Dosa Besar

Penjabaran 70 Dosa Besar menurut Al Qur’an dan As-Sunah

dosa-besar1

dosa besar

Beberapa dosa besar atau kaba’ir dalam Islam adalah sebagai berikut:

1. Menyekutukan Allah atau Syirik
2. Membunuh Manusia
3. Melakukan Sihir
4. Meninggalkan Shalat
5. Tidak Mengeluarkan Zakat
6. Tidak Berpuasa ketika bulan Ramadhan tanpa alasan yang kuat
7. Tidak Mengerjakan Haji Walaupun Berkecukupan
8. Durhaka Kepada Ibu Bapa
9. Memutuskan Silaturahim
10. Berzina
11. Melakukan Sodomi atau Homoseksual
12. Memakan Riba
13. Memakan Harta Anak Yatim
14. Mendustakan Allah S.W.T dan Rasul-Nya
15. Lari dari Medan Perang
16. Pemimpin Yang Penipu dan Kejam
17. Sombong
18. Saksi Palsu
19. Meminum minuman beralkohol
20. Berjudi
21. Menuduh orang baik melakukan Zina
22. Menipu harta rampasan Perang
23. Mencuri
24. Merampok
25. Sumpah Palsu
26. Berlaku Zalim
27. Pemungut cukai yang Zalim
28. Makan dari harta yang Haram
29. Bunuh Diri
30. Berbohong
31. Hakim yang Tidak adil
32. Memberi dan menerima sogok
33. Wanita yang menyerupai Lelaki dan sebaliknya juga
34. Membiarkan istri, anaknya atau anggota keluarganya yang lain berbuat mesum dan memfasilitasi anggota keluarganya tersebut untuk berbuat mesum
35. Menikahi wanita yang telah bercerai agar wanita tersebut nantinya bisa kembali menikah dengan suaminya terdahulu
36. Tidak melindungi pakaian dan tubuhnya dari terkena hadas kecil seperti air kencing atau kotoran
37. Riya atau suka pamer
38. Ulama yang memiliki ilmu namun tidak mau mengamalkan ilmunya tersebut untuk orang lain
39. Berkhianat
40. Mengungkit-Ungkit Pemberian
41. Mangingkari Takdir Allah SWT
42. Mencari-cari Kesalahan Orang lain
43. Menyebarkan Fitnah
44. Mengutuk Umat Islam
45. Mengingkari Janji
46. Percaya Kepada Sihir dan Nujum
47. Durhaka kepada Suami
48. Membuat patung
49. Menamparkan pipi dan meratap jika terkena bala
50. Menggangu Orang lain
51. Berbuat Zalim terhadap yg lemah
52. Menggangu Tetangga
53. Menyakiti dan Memaki Orang Islam
54. Derhaka kepada Hamba Allah S.W.T dan menggangap dirinya baik
55. Memakai pakaian labuhkan Pakaian
56. Lelaki yang memakai Sutera dan Emas
57. Seorang hamba (budak) yang lari dari Tuannya
58. Sembelihan Untuk Selain Dari Allah S.W.T
59. Seorang yang mengaku bahwa seseorang itu adalah ayahnya namun dia tahu bahwa itu tidak benar
60. Berdebat dan Bermusuhan
61. Enggan Memberikan Kelebihan Air
62. Mengurangi Timbangan
63. Merasa Aman Dari Kemurkaan Allah S.W.T
64. Putus Asa Dari Rahmat Allah S.W.T
65. Meninggalkan Sholat Berjemaah tanpa alasan yang kuat
66. Meninggalkan Sholat Jumaat tanpa alasan yang kuat
67. Merebut hak warisan yang bukan miliknya
68. Menipu
69. Mengintip Rahasia dan Membuka Rahasia Orang Lain
70. Mencela Nabi dan Para Sahabat Beliau

selengkapnya baca penjelasan tuntas “dosa besar” tersebut diatas

10 Malaikat

Iman kepada malaikat adalah bagian dari Rukun Iman.
Iman kepada malaikat adalah meyakini adanya malaikat, walaupun kita tidak dapat melihat mereka, dan bahwa mereka adalah salah satu makhluk ciptaan Allah.

Allah menciptakan mereka dari cahaya. Mereka menyembah Allah dan selalu taat kepada-Nya, mereka tidak pernah berdosa. Tak seorang pun mengetahui jumlah pasti malaikat, hanya Allah saja yang mengetahui jumlahnya.

Walaupun manusia tidak dapat melihat malaikat tetapi jika Allah berkehendak maka malaikat dapat dilihat oleh manusia, yang biasanya terjadi pada para Nabi dan Rasul. Malaikat pada umumnya menampakan diri dalam wujud laki-laki kepada para nabi dan rasul. Seperti terjadi kepada Nabi Ibrahim.

Di antara para malaikat yang wajib setiap orang Islam ketahui sebagai salah satu Rukun Iman berserta tugas-tugas mereka adalah:

1. Jibril – Menyampaikan wahyu kepada para Nabi dan Rasul Allah.
2. Israfil – Meniup sangkakala (terompet) pada hari kiamat.
3. Izrail – Mencabut nyawa seluruh makhluk.
4. Munkar – Memeriksa amal perbuatan manusia di alam barzakh.
5. Nakir – Memeriksa amal perbuatan manusia di alam barzakh.
6. Raqib – Mencatat amal baik manusia ketika hidup di dunia.
7. Atid – Mencatat amal buruk manusia ketika hidup di dunia.
8. Malik – Menjaga neraka dengan bengis dan kejam.
9. Ridwan – Menjaga sorga dengan lemah lembut.
10. Mikail – Membagi rezeki kepada seluruh makhluk, di antaranya menurunkan hujan.

Dari nama-nama malaikat di atas hanya tiga yang disebut dalam Al Qur’an, yaitu Jibril (QS 2 Al Baqarah : 97,98 dan QS 66 At Tahrim : 4), Mikail (QS 2 Al Baqarah : 98) dan Malik (QS Al Hujurat).

Sedangkan Israfil, Munkar dan Nakir disebut dalam Hadits.

Nama Malaikat Maut, Izrail, tidak ditemukan sumbernya baik dalam Al Quran maupun Hadits. Kemungkinan nama malaikat Izrail didapat dari sumber Israiliyat. Dalam Al Qur’an dia hanya disebut Malaikat Maut.

Walau namanya hanya disebut dua kali dalam Al Qur’an, malaikat Jibril juga disebut di banyak tempat dalam Al Qur’an dengan sebutan lain seperti Ruhul Qudus, Ruhul Amin dll.

Selain malaikat tersebut di atas Al Qur’an juga menyebutkan beberapa malaikat lainnya, seperti :

Malaikat Zabaniah – 19 malaikat penyiksa dalam neraka.
Hamalatul ‘Arsy – Empat malaikat pembawa ‘Arsy Allah, pada hari kiamat jumlahnya akan ditambah empat menjadi delapan.
Malaikat Rahmat (kitab Daqoiqul Akhbar)
Malaikat Harut dan Marut – Dua Malaikat yang berubah ujud menjadi manusia dan di turunkan ke negeri Babil

Malaikat Hafazhah (Para Penjaga):
1. Malaikat Kiram al-Katibun – Para malaikat pencatat yang mulia, ditugaskan mengawasi amal seorang hamba-Nya.
2. Malaikat Mu’aqqibat – Para malaikat yang ditugaskan menjaga seorang hamba dalam segala ihwalnya.

Sifat-sifat malaikat yaitu mereka selalu patuh terhadap apa-apa yang diperintahkan Allah kepada mereka. Mereka tidak diciptakan untuk membangkang atau melawan kepada Allah. Malaikat tidak dilengkapi dengan hawa nafsu, tidak memiliki keinginan seperti manusia, tidak berjenis lelaki atau perempuan, dan tidak berkeluarga.

Malaikat mengemban tugas-tugas tertentu dalam mengelola alam semesta.

Malaikat tidak pernah lelah dalam melaksanakan apa-apa yang diperintahkan kepada mereka. Mereka tidak makan, minum atau tidur seperti manusia. Mereka tidak bertambah tua ataupun bertambah muda, keadaan mereka sekarang sama persis ketika mereka diciptakan.

Sebagai makhluk ghaib, wujud Malaikat tidak dapat dilihat, didengar, diraba, dicium dan dirasakan oleh manusia, dengan kata lain tidak dapat dijangkau oleh panca indera, kecuali jika malaikat menampakkan diri dalam rupa tertentu, seperti rupa manusia. Beberapa nabi dan rasul telah di tampakkan wujud malaikat yang berubah menjadi manusia, seperti dalam kisah Luth, Maryam, Muhammad dan lain-lainnya.

Sedangkan Iblis, dulunya/asalnya adalah ketua seluruh malaikat di langit dan di bumi, ia selalu bersujud di setiap langit kepada-Nya, yang paling banyak ilmu dan ibadahnya. Iblis adalah nenek moyang Jin, seperti Adam nenek moyang Manusia. Jin adalah makhluk yang dicipta oleh Allah dari ‘api yang tidak berasap’, sedang malaikat dicipta dari cahaya.

Ada yang berpendapat bahwa nama malaikat itu sebenarnya bukan menunjukkan individu, tetapi menunjukkan suatu sistem.
Ada yang lebih spesifik, yang menyebutkan malaikat itu sistem database-nya Allah.

Tulisan/artikel ini ditujukan sekedar untuk menambah pengetahuan kita, dengan harapan semoga dengan bertambahnya ilmu, kita menjadi “lebih dekat”, “lebih tunduk”, “lebih sayang”, dsb, kepada Allah SWT.

sumber: Sumber : http://al-quran.bahagia.us/
link : http://www.facebook.com/notes/al-quran-islam-yg-bahagia/malaikat-dalam-agama-islam/150068068762

Kisah Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail

Ibrahim dilahirkan di Babylonia, bagian selatan Mesoptamia (sekarang Irak). Ayahnya bernama Azar, seorang ahli pembuat dan penjual patung.
Nabi Ibrahim AS dihadapkan pada suatu kaum yang rusak, yang dipimpin oleh Raja Namrud, seorang raja yang sangat ditakuti rakyatnya dan menganggap dirinya sebagai Tuhan.
Sejak kecil Nabi Ibrahim AS selalu tertarik memikirkan kejadian-kejadian alam. Ia menyimpulkan bahwa keajaiban-keajaiban tsb pastilah diatur oleh satu kekuatan yang Maha Kuasa.
Semakin beranjak dewasa, Ibrahim mulai berbaur dengan masyarakat luas. Salah satu bentuk ketimpangan yang dilihatnya adalah besarnya perhatian masyarakat terhadap patung-patung.

Nabi Ibrahim AS yang telah berketetapan hati untuk menyembah Allah SWT dan menjauhi berhala, memohon kepada Allah SWT agar kepadanya diperlihatkan kemampuan-Nya menghidupkan makhluk yang telah mati. Tujuannya adalah untuk mempertebal iman dan keyakinannya.
Allah SWT memenuhi permintaannya. Atas petunjuk Allah SWT, empat ekor burung dibunuh dan tubuhnya dilumatkan serta disatukan. Kemudian tubuh burung-burung itu dibagi menjadi empat dan masing-masing bagian diletakkan di atas puncak bukit yang terpisah satu sama lain. Allah SWT memerintahkan Nabi Ibrahim AS untuk memanggil burung-burung tsb. Atas kuasa-Nya, burung yang sudah mati dan tubuhnya tercampur itu kembali hidup. Hilanglah segenap keragu-raguan hati Ibrahim AS tentang kebesaran Allah SWT.

Ibrahim menghancurkan berhala kaum Babylonia
Orang pertama yang mendapat dakwah Nabi Ibrahim AS adalah Azar, ayahnya sendiri. Azar sangat marah mendengar pernyataan bahwa anaknya tidak mempercayai berhala yang disembahnya, bahkan mengajak untuk memasuki kepercayaan baru menyembah Allah SWT. Ibrahim pun diusir dari rumah.
Ibrahim merencanakan untuk membuktikan kepada kaumnya tentang kesalahan mereka menyembah berhala. Kesempatan itu diperolehnya ketika penduduk Babylonia merayakan suatu hari besar dengan tinggal di luar kota selama berhari-hari. Ibrahim lalu memasuki tempat peribadatan kaumnya dan merusak semua berhala yang ada, kecuali sebuah patung yang besar. Oleh Ibrahim, di leher patung itu dikalungkan sebuah kapak.

Mukjizat Allah: Api menjadi dingin
Akibat perbuatannya ini, Ibrahim ditangkap dan diadili. Namun ia menyatakan bahwa patung yang berkalung kapak itulah yang menghancurkan berhala-berhala mereka dan menyarankan para hakim untuk bertanya kepadanya. Tentu saja para hakim mengatakan bahwa berhala tidak mungkin dapat ditanyai. Saat itulah Nabi Ibrahim AS mengemukakan pemikirannya yang berisi dakwah menyembah Allah SWT.
Hakim memutuskan Ibrahim harus dibakar hidup-hidup sebagai hukumannya. Saat itulah mukjizat dari Allah SWT turun. Atas perintah Allah, api menjadi dingin dan Ibrahim pun selamat. Sejumlah orang yang menyaksikan kejadian ini mulai tertarik pada dakwah Ibrahim AS, namun mereka merasa takut pada penguasa.
Langkah dakwah Nabi Ibrahim AS benar-benar dibatasi oleh Raja Namrud dan kaki tangannya. Karena melihat kesempatan berdakwah yang sangat sempit, Ibrahim AS meninggalkan tanah airnya menuju Harran, suatu daerah di Palestina. Di sini ia menemukan penduduk yang menyembah binatang. Penduduk di wilayah ini menolak dakwah Nabi Ibrahim AS. Ibrahim AS yang saat itu telah menikah dengan Siti Sarah kemudian berhijrah ke Mesir. Di tempat ini Nabi Ibrahim AS berniaga, bertani, dan beternak. Kemajuan usahanya membuat iri penduduk Mesir sehingga ia pun kembali ke Palestina.

Ibrahim menikahi Siti Hajar
Setelah bertahun-tahun menikah, pasangan Ibrahim dan Sarah tak kunjung dikaruniai seorang anak. Untuk memperoleh keturunan, Sarah mengizinkan suaminya untuk menikahi Siti Hajar, pembantu mereka. Dari pernikahan ini, lahirlah Ismail yang kemudian juga menjadi nabi.

Ketika Nabi Ibrahim AS berusia 90 tahun, datang perintah Allah SWT agar ia meng-khitan dirinya, Ismail yang saat itu berusia 13 tahun, dan seluruh anggota keluarganya. Perintah ini segera dijalankan Nabi Ibrahim AS dan kemudian menjadi hal yang dijalankan nabi-nabi berikutnya hingga umat Nabi Muhammad SAW.

Allah SWT juga memerintahkan Ibrahim AS untuk memperbaiki Ka’bah (Baitullah). Saat itu bangunan Ka’bah sebagai rumah suci sudah berdiri di Mekah. Bangunan ini diperbaikinya bersama Ismail AS. Hal ini dijelaskan dalam Al Qur’an surat Al-Baqarah ayat 127.

Ibrahim AS adalah nenek moyang bangsa Arab dan Israel. Keturunannya banyak yang menjadi nabi. Dalam riwayat dikatakan bahwa usia Nabi Ibrahim AS mencapai 175 tahun. Kisah Nabi Ibrahim AS terangkum dalam Al Qur’an, diantaranya surat Maryam: 41-48, Al-Anbiyâ: 51-72, dan Al-An’âm: 74-83.

Nabi Ibrahim mengasingkan Hajar dan anaknya
Dengan kelahiran bayi Ismail, Siti Sarah, istri pertama Nabi Ibrahim AS, berangsur-angsur merasa cemburu sehingga ia meminta kepada suaminya agar memindahkan Hajar dan anaknya ke suatu tempat yang jauh. Atas wahyu dari Allah SWT, Ibrahim AS memenuhi kehendak istrinya. Ia kemudian memindahkan Hajar dan bayinya ke tengah padang pasir di Mekah, dekat sebuah bangunan suci yang kemudian dikenal sebagai Ka’bah. Ia kemudian meninggalkan keduanya di tempat itu karena harus kembali ke Palestina untuk menemui Sarah. Dalam perjalanan pulang itu Ibrahim tak henti-hentinya memanjatkan doa memohon keselamatan bagi istri dan putra yang ditinggalkannya.

Dahulu, Nabi Ibrahim ‘alahi salam membawa istrinya Hajar dan putra beliau Ismail ke daerah Makkah. Pada saat itu, Hajar dalam keadaan menyusui putranya.

Nabi Ibrahim kemudian menempatkan Hajar dan Ismail ke sebuah tempat di samping pohon besar. Pada saat itu, di tempat tersebut tidaklah terdapat seorang pun dan tidak pula ada air. Nabi Ibrahim kemudian meninggalkan keduanya beserta geribah yang di dalamnya terdapat kurma, serta bejana yang berisi air.

Ketika Nabi Ibrahim hendak pergi, Hajar mengikuti beliau seraya bertanya, “Wahai Ibrahim, ke manakah engkau akan pergi? Apakah engkau akan meninggalkan kami padahal di lembah ini tidak terdapat seorang pun dan tidak ada makanan apa pun?”

Hajar mengucapkannya berkali-kali, namun Nabi Ibrahim tidak menghiraukannya. Hajar kemudian bertanya, “Apakah Allah yang memerintahkan engkau berbuat ini?” Nabi Ibrahim kemudian menjawab, “Iya.” Hajar lalu berkata, “Dia tidak akan membiarkan kami.” Hajar kemudian kembali.

Di daerah Tsaniah, ketika sosok beliau hilang dari pandangan keluarga yang beliau tinggalkan, Nabi Ibrahim berdoa,

“Ya Rabb kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati. Ya Rabb Kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan berilah mereka rezeki dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur.”

Ketika persedian air mereka habis, Hajar pun mencari air untuk dia dan putranya. Dia pergi ke bukit Shafa, mencari-cari adakah orang di sana, namun dia tidak menemukan siapa pun di sana.

Hajar pun kemudian pergi ke Marwah dan mencari-cari orang pula di sana. Dia juga tidak mendapati seorang pun.

Hajar berulang-ulang pergi dari Shafa ke Marwah, sebaliknya dari Marwah ke Shafa sampai tujuh kali. Oleh karena itu, di dalam ibadah haji ada yang namanya Sai, yaitu berlari-lari kecil dari Shafa ke Marwa dan sebaliknya sampai tujuh kali.

Sampai ke Marwah, Hajar mendengar suara. Lalu dia berkata, “Diamlah”. Dia mendengar suara itu, lalu mencari sumber suara itu dan berkata, “Aku telah mendengarmu, apakah engkau dapat memberikan bantuan?”

Ternyata dia berada bersama malaikat di tempat di mana terdapat air zam-zam. Lalu, malaikat itu mengais-ngais tanah hingga akhirnya muncul air. Selanjutnya, ia pun menuruni air tersebut, mengisi bejananya dan kembali ke putranya Ismail, kemudian menyusuinya.

Malaikat lalu berkata kepada Hajar, “Janganlah engkau takut disia-siakan, karena di sini akan dibangun sebuah rumah oleh anak ini dan bapaknya. Dan sesungguhnya Allah tidak akan menyia-nyiakan keluarganya”

Nabi Ibrahim diperintahkan untuk menyembelih Putranya
Ismail yang sudah beranjak remaja sangat menggembirakan hati Ibrahim, namun kegembiraan itu tiba-tiba buyar karena perintah Allah SWT lewat mimpinya yang meminta agar anak kesayangannya itu disembelih. Mula-mula Ibrahim sangat sedih menerima mimpi itu, namun sebagai orang yang saleh dan taat ia berniat menjalankan perintah Allah SWT tsb dan kemudian menyampaikan berita itu kepada putranya. Tanpa ragu, Ismail meminta ayahnya untuk melaksanakan perintah itu.
Pada akhirnya, ketika hal tsb dilaksanakan, Allah SWT mengganti Ismail dengan seekor kambing. Peristiwa ini selalu diperingati setiap tahun dengan anjuran menyembelih hewan kurban pada hari Idul Adha.

Kehidupan Nabi Ismail
Setelah beberapa waktu berlalu, serombongan suku Jurhum datang ke tempat tersebut dan tinggal di sekitar air zam-zam bersama Hajar dan Ismail. Ini semua mereka lakukan atas izin dari Hajar.
Nabi Ismail pun beranjak dewasa dan belajar Bahasa Arab dari Suku Jurhum tersebut. Beliau juga menikah dengan salah seorang wanita mereka. Diceritakan pula bahwa Hajar kemudian meninggal dunia.

Pada suatu saat, Nabi Ibrahim datang ingin menjenguk Nabi Ismail ‘alaihimassalam. Namun, beliau hanya menemui istri Nabi Ismail saja.
Nabi Ibrahim bertanya kepada wanita tersebut ke mana kiranya Nabi Ismail pergi. Istrinya menjawab, “Dia sedang mencari nafkah untuk kami.”
Nabi Ibrahim lalu bertanya tentang keadaan mereka. Istri Nabi Ismail menjawab, “Kami dalam kondisi yang jelek dan hidup dalam kesempitan dan kemiskinan.”
Mendengar jawaban tersebut, sebelum pulang Nabi Ibrahim berpesan kepada wanita itu untuk menyampaikan salam kepada Nabi Ismail dan berpesan agar Nabi Ismail mengganti pegangan pintunya.
Setelah Nabi Ismail kembali ke rumah, istrinya pun menceritakan peristiwa tadi dan menyampaikan pesan Nabi Ibrahim kepada suaminya.
Mendengar hal tersebut, Nabi Ismail pun berkata kepada istrinya, “Itu tadi adalah bapakku. Ia menyuruhku untuk menceraikanmu, maka kembalilah engkau kepada orang tuamu.”
Nabi Ismail pun menceraikan istrinya tadi sesuai dengan pesan Nabi Ibrahim dan kemudian menikah lagi dengan seorang wanita dari Bani Jurhum juga.

Setelah beberapa waktu berlalu, Nabi Ibrahim kemudian kembali mengunjungi Nabi Ismail. Namun, Nabi Ismail tidak ada di rumah. Nabi Ibrahim pun menemui istri Nabi Ismail yang baru.
Beliau bertanya dimana Nabi Ismail sekarang. Istrinya menjawab bahwa Nabi Ismail sedang mencari nafkah.
Nabi Ibrahim juga bertanya tentang keadaan mereka. Wanita itu menjawab bahwa keadaan mereka baik-baik saja dan berkecukupan, sambil kemudian memuji Allah azza wa jalla.
Nabi Ibrahim lalu bertanya tentang makanan serta minuman mereka. Wanita itu menjawab bahwa makanan mereka adalah daging, adapun minuman mereka adalah air. Maka Nabi Ibrahim mendoakan kedua hal ini, “Ya Allah berkatilah mereka pada daging dan air.”
Setelah itu, Nabi Ibrahim pun pergi dari rumah Nabi Ismail. Namun, sebelumnya beliau berpesan kepada wanita itu agar Nabi Ismail memperkokoh pegangan pintunya.
Ketika Nabi Ismail pulang, beliau bertanya kepada istrinya, “Adakah tadi orang yang bertamu?”
Istrinya menjawab, “Ada, seorang tua yang berpenampilan bagus.” Dia memuji Nabi Ibrahim.
“Ia bertanya kepadaku tentang dirimu, maka aku jelaskan keadaanmu kepadanya. Dia juga bertanya tentang kehidupan kita, dan aku jawab bahwa kehidupan kita baik-baik saja.”
Nabi Ismail kemudian bertanya, “Apakah dia memesankan sesuatu kepadamu?”
Istrinya kembali menjawab, “Ya. Ia menyampaikan salam kepadamu dan menyuruhku mengokohkan pegangan pintumu.”
Nabi Ismail berkata, “Itu adalah ayahku dan engkau adalah pegangan pintu tersebut. Beliau menyuruhku untuk tetap menikahimu (menjagamu).”

Waktu pun berlalu. Suatu saat ketika Nabi Ismail sedang meraut anak panah, Nabi Ibrahim pun datang. Nabi Ismail pun bangkit menyambutnya, dan mereka pun saling melepaskan rindu.
Selanjutnya, Nabi Ibrahim berkata, “Wahai anakku, sesungguhnya Allah menyuruhku menjalankan perintah.”
Ismail menjawab, “Lakukanlah apa yang diperintahkan Rabbmu.”
“Apakah engkau akan membantuku?”, Tanya Nabi Ibrahim kembali.
“Aku pasti akan membantumu.” seru Ismail.
Nabi Ibrahim kemudian menunjuk ke tumpukan tanah yang lebih tinggi dari yang sekitarnya. Beliau berkata, “Sesungguhnya Allah menyuruhku membuat suatu rumah di sini.”
Pada saat itulah, keduanya kemudian meninggikan pondasi Baitullah. Ismail mulai mengangkut batu, sementara Ibrahim memasangnya.
Setelah bangunan tinggi, Ismail membawakan sebuah batu untuk menjadi pijakan bagi Nabi Ibrahim. Batu inilah yang akhirnya disebut sebagai maqam (tempat berdiri) Nabi Ibrahim.
Mereka pun terus bekerja sembari mengucapkan doa, “Wahai Rabb kami terimalah dari kami (amalan kami), sesungguhnya Engkaulah yang Maha mendengar lagi Maha Mengetahui”.
Sampai akhirnya tuntaslah pembangunan baitullah itu. Ka’bah pun akhirnya berdiri di bumi Allah ‘azza wa jalla.(*)

Al Hajarul Aswad
Menurut riwayat, sejak Batu Hajar Aswad semula berwarna putih dan digunakan di bumi sehingga berubah menjadi hitam. Kemungkinan karena mulainya dosa dibuat oleh makhluk adalah Adam&Hawa atau anak lelaki mereka. Seperti dijelaskan bahwa Allah memerintah Ibrahim menyuruh Ismail mencari batu Hajar Aswad. Karena sulit ditemukan batu Hajar Aswad di pegunungan tinggi, sehingga dibantu oleh malaikat untuk memberi batu hajar Aswad. Sejarah Batu hajar Aswad Putih di mana sudah dijelaskan para website Islam bahwa Batu Hajar Aswad dari Surga, batu Hajar Aswad diciptakan dari tanah spt diciptakan pada Adam&Hawa di Surga. Membangun ajakan keimanan dalam sembahan di RUMAH Allah dan dari perintahNya membangun tempat Kabah setelah di situ lokasi rumah kemah Adam dulunya sebelum diterjang oleh bencana banjir oleh Nabi Nuh. Rumah kemah Adam lah sangat diramai ramai oleh saudara saudara di masa lalu. Ini sudah dijelaskan sejarah.Walaupun diperintahNya untuk melaksanakan berbagai perintahNya. Di sela sela menuju tempat penyembelihan kurban, Nabi Ibrahim dan Ismail melempar lempar batu batu kerikil pada Iblis. Pelemparan batu batu kerikil pada Iblis, membuktikan Nabi Ibrahim&Ismail tetap mempertahankan pelaksanaan berbagai perintahNya. Allah lah memerintah Nabi Ibrahim menyuruh Nabi Ismail mencari batu Hajar Aswad. Tidak benar bila ada umat non mengira batu Hajar Aswad diberi oleh Iblis. Padahal perintahNya memerintah Nabi Ibrahim&Ismail. Sudah dibuktikan oleh Kitab Al quran, dan kitab lainnya. Beberapa kitab sendiri membicarakan kenabian Ibrahim&Ismail.Karena diperintahNya untuk menaruh batu hajar Aswad di Kabah, Rumah Allah, kemudian dibangun rumah Allah untuk aktivitas Peribadahan masyarakat Islam. Sudah dibuktikan dari sejarah sejarah kebenaran. Sesungguhnya batu Hajar Aswad tidak dapat disamakin dengan patung patung berbentuk hidup/berhala atau binatang.Nabi Ibrahim&Ismail memang membangun tempat Ibadah yang diperuntukan untuk masyarakat beragama ISLAM. Kita seharusnya mengetahui semuanya bahwa kebenaran menurut fakta fakta terletak pada Nabi Ibrahim&Ismail untuk membuktikan Islam yang agama benar karena pembangunan Kabah lah diperintahNya dulu. Itu sudah dijelaskan berkali kali oleh sejarah Islam dan fakta fakta telah dijaga sejak lama.. Kami tidak pernah menyembah batu, Terhadap Kabah, kami sebagai umat Islam hanya bersembahyang dan berdoa pada Allah Tuhan yang tidak berwujud.Al quran sudah banyak mengajak sembahan dan takwa kepadaNya Tuhan yang benar. Tidak ada disebut sebutkan batu hitam disembah di dalam Al quran. Batu mati itu hanya dapat ditaruh di mana Rumah Allah, digunakan untuk Ibadah. Dalam penjelasan akan datang hari kiamat, sesungguhnya semua umat perlu bertakwa kepadaNya atas kehidupan di dunia ini. Berdoa dan pelajari berbagai bentuk dosa terjadi di dunia dengan bersembahyang kepadaNya. Berdoa dan pelajari perbuatan umat umat dari berbagai bentuk dosa terjadi dialami oleh nenek moyang dulu di dunia dengan bersembahyang kepadaNya. Tidak ada tertera di dalam Al quran atau beberapa riwayat Islam bahwa Batu Hajar Aswad telah didapat dari hujan meteor sebab hanya diketahui hanyalah satu Batu Hajar Aswad. Telah dijelaskan bahwa perintahNya untuk mencari batu Hajar Aswad sehingga bantuan malaikat berwujud manusia ganteng.Warna batu hitam menunjukkan mudahnya terjadi dosa dosa dari umat umat manusia dalam bentuk perasaan dan nafsu. Marilah kita saling memaafkan dan memperbaiki diri dalam kekurangan umat umat selama ini. Tidak tertutup kemungkinan bila masyarakat Islam telah memegang kitab suci paling terakhir di dunia.Inilah sejarah patut dapat disadari oleh umat umat dunia.

Dusta – Bohong

Berdusta atau berbohong adalah sifat manusia yang mengawali kehancuran-nya

Setiap kali berdusta , atau menutupi kebohongannya membutuhkan lebih seratus kebohongan lainnya.
Contohnya seorang pegawai yang mangkir / bolos dari pekerjaannya , ia tidak masuk kerja akibat terlambat bangun, karena semalaman ia menghadiri pesta ultah sahabatnya yang usai jam 3 dini hari, dan keesokan harinya ia ditanya oleh Atasannya:

Atasan : Kenapa kemarin tidak masuk kerja ???
Pegawai : Sakit Kepala Pak
Atasan : Bagaimana sakitnya sampai tidak dapat masuk kerja
Pegawai : Sangat berdenyut-denyut Pak !
Atasan : Sudah kedokter ?
Pegawai : Sudah Pak
Atasan : Dokter siapa ???
Pegawai : Dokter Anu pak
Atasan : Ada Resep obat yang diberikan ?
Pegawai : Ada pak
Atasan : Obat Apa Namanya
Pegawai : Parasetamol pak

…. dan seterusnya… , dan oleh teman sekerjanya , si pegawai juga ditanyai , dan sipegai berbohong untuk mempertahankan kebohongannya

sebenarnya pegawai tersebut tidak masuk kerja karena terlambat bagun, dari pada dimarah oleh atasan kalau masuk kerja terlambat , lebih baik tinggal saja dirumah bermalas-malasan, atasan kan dapat menerima alasan “Sakit”. Pemikiran pegawai tersebut adalah sekedar Alasan untuk membenarkan Perbuatan Mangkirnya dan yang jelas bahwa Pegawai tersebut tidak atau kurang memiliki rasa tanggung jawab terhadap pekerjaannya.

Jika sifat berbohong tadi merupakan kebiasaannya  dan berulang kali , maka dapat menimbulkan kecurigaan , saling curiga antara atasan dan bawahan, antara bawahan dan sesama bawahan yang kan menimbulkan rasa tidak percaya sesamanya.

Rasa ketidak percayaan diantaranya akan menimbulkan Fitnah , contoh nya :

Suatu waktu si pegawai disuruh mengantar Parsel ke Boss Besar, dan sialnya ditengah jalan , parsel tersebut terjatuh (betul betul terjatuh) dan akhirnya sipegawai kembali dan melaporkan kejadian tersebut. Karena Atasannya tidak percaya lagi kepada sipegawai , maka diceritakannyalah kejadian tersebut kepada karyawan lainnya, dan oleh karyawan lainnya (karena ia juga tidak percaya kepada pegawai tersebut) mengatakan ” Dia itu berbohong Pak, mungkin saja parsel  tersebut dikasi kepada Pacarnya ” (Fitnah ).

Akibat dari fitnah ini , maka dikeluarkan lah Pegawai tersebut dari Perusahaan tempat ia bekerja dan Tamat / hancurlah karier dari si-Pegawai tersebut.

Secuil contoh tersebut diatas sangat sederhana namun dapat dibesar-besarkan bila dilandasi rasa Iri dan Dengki

Dusta, Curiga, Fitnah, Iri dan Dengki serta tidak bertanggung jawab adalah sifat manusia yang berada dalam satu kesatuan , tidak berdiri sendiri , hanya kuantitasnya yang berbeda beda (kebiasaan, sering, jarang, tidak selalu, sekali-kali) antara manusia dengan manusia lainnya.

Sifat sifat manusia tersebut yang akan membentuk Manusia Munafik seutuhnya

Tulisan terkait :

  •  Bersikap Jujur menjauhi Dusta
  • Benar dan Dusta
  • Ciri-ciri orang Munafik
  • Peringatan Allah bagi orang Munafik