Category Archives: Petuah

PERKATAAN YANG TIDAK DICINTAI ALLAH

(Kajian tafsir an-Nisa:148-149)

A. Teks Ayat dan Tarjamahnya

لَا يُحِبُّ اللَّهُ الْجَهْرَ بِالسُّوءِ مِنَ الْقَوْلِ إِلَّا مَنْ ظُلِمَ وَكَانَ اللَّهُ سَمِيعًا عَلِيمًا () إِنْ تُبْدُوا خَيْرًا أَوْ تُخْفُوهُ أَوْ تَعْفُوا عَنْ سُوءٍ فَإِنَّ اللَّهَ كَانَ عَفُوًّا قَدِيرًا

Allah tidak menyukai ucapan buruk, (yang diucapkan) dengan terang kecuali oleh orang yang dianiaya. Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. Jika kamu menyatakan sesuatu kebaikan atau menyembunyikan atau memaafkan sesuatu kesalahan (orang lain), maka sesungguhnya Allah Maha Pema`af lagi Maha Kuasa… Qs.4:148-149

B. Kaitan Ayat

1. Ayat sebelumnya menyingkap keburukan munafiq secara terang-taerangan. Padahal orang munafiq itu sangat pandai menyembunyikan keburukannya. Ayat berikutnya menegaskan bahwa kata-kata buruk itu sebenarnya tidak disukai Allah SWT. Dengan diungkapnya aib munafiq secara jelas, bisa jadi ada orang beranggapan dibolehkannya mengungkap aib di semabarang waktu atau tempat. Inilah kaitannya ayat tentang sifat munafiq kemudian disambungkan dengan ayat yang menyebutkan bahwa perkataan buruk atau mengungkap aib itu tidak disenangi Allah, maka jelaslah bahwa mengungkap aib itu bukan berarti boleh dijaharkan di mana-mana. Tegasnya mengungkap aib orang lain hanya dibolehkan ketika memenuhi syarat dan ketentuan yang berlaku.

2. Ayat sebelumnya mengungkap bahwa di antara sifat munafiq adalah suka pamer kebaikan dan menyembunyikan keburukannya. Timbul pertanyaan bagaimana kalau berbuat baik secara terang-terangan, apakah termasuk ria seperti munafiq? Maka pada ayat selanjutnya mengungkapkan bahwa dibolehkannya berbuat baik secara terang-terangan.

C. Tinjauan Historis

Menurut Hanad bi al-Siri dari Mujahid, ayat ini berkaitan dengan seseorang bertamu ke penduduk Madinah, ternyata diperlakukan todak baik oleh pribuminya. Tamu tersebut pindah bertamu ke yang lainnya, tatkala ditanya mengapa pindah, maka ia menjawab bahwa dirinya telah diperlakukan tidak baik. Ayat ini turun memberikan keringanan pada sikap tamu yang mengemukakan apa yang dialaminya karena dizhalimi oleh pribuminya.[1]

D. Tafsir Kalimat

1. لَا يُحِبُّ اللَّهُ الْجَهْرَ بِالسُّوءِ مِنَ الْقَوْلِ Allah tidak menyukai ucapan buruk, (yang diucapkan) dengan terang kecuali oleh orang yang dianiaya.

Cinta Allah pada sesuatu merupakan lambang curahan rido-Nya dan menganugerahkan pahala untuk pelaku amalan yang dicintai-Nya. Jika Allah tidak mencintainya berarti tidak meridoi, atau menjauhkan dari rahmat-Nya. Pada pangkal ayat ini ditegaskan bahwa Allah tidak mencintai الْجَهْرَ بِالسُّوءِ (jahar atau terang-terangan dengan keburukan) مِنَ الْقَوْلِ (dari perkataan). Dengan demikian Allah SWT membenci perkataan yang buruk yang disampaikan secara terus terang. Dikaitkan dengan ayat sebelumnya bisa difahami bahwa perkataan buruk tersebut utamanya mengungkap aib orang lain yang semestinya disembunyikan. Namun ada mufassir yang berpendapat, termasuk pula di dalamnya mendo’akan celaka atau keburukan pada orang lain. Kalau dikatakan Allah tidak suka, niscaya Allah membencinya.  Maka amatlah dibenci menyiar-nyiarkan atau menjelas-jelaskan perkataan yang buruk, yang kotor, yang cabul dan yang carut-marut.  Yang disukai oleh Allah hanyalah kata-kata yang sopan yang indah, tidak menyinggung perasaan, yang tidak merusak akhlak.  Banyak perkataan yang maklumi penegartiannya tetapi tidak boleh diucapkan terus-terang.  Inilah letaknya batas kesopanan manusia.  Allah SWT memilih kata-kata di dalam al-Quran yang patut menjadi contoh bagi orang yang beriman. Istilah-istilah yang digunakan dalam al-Qur`an selalu yang sopan tidak vulgar, tidak pula seronok. Bagaimana menggunakan istilah لامستم (bersentuhan) untuk gaul sumai istri, istilah غائط (lubang tertutup) untuk buang air. Ini sebagai bukti bahwa Allah SWT mencintai istilah-istilah yang sopan, indah, dan tidak menyukai perkataan yang buruk. Ayat inipun suatu teguran halus dalam hal pendidikan.  Tidaklah layak seorang ibu ketika marah-marah kepada anaknya mengeluarkan kata-kata yang kotor, memaki-maki, menghina atau menghardiknya.  Di abad ke 21 masehi ini sebagai abad kecanggihan teknologi informasi, demikan mudah dan pesat tersebarnya berita tentang aib seseorang. Betapa banyak orang yang menjadi korman pemberitaan hingga mengalami kerugian. Televise, surat kabar, majalah ataupun media online internet demikian mudah menyaberkan issu   negative orang atau kelompok, maka ayat ini semestinya menjadi pedoman dalam memberitakan. Mana yang pantas disebarkan, manapula yang tidak pantas, dan dengan bahasa atau kata yang seperti apa yang layak disampaikan. Itulah sebabnya di negeri yang beradab, dalam penegakkan hokum, menyelidiki dan menyidangkan kesalahan tersangka pun memilah mana yang bias dengan sidah terbuka, mana pula yang semestinya tertutup.

2. إِلَّا مَنْ ظُلِمَ

Perkataan إِلَّا مَنْ ظُلِمَ (kecuali dari orang yang dizhalimi), merupakan pengecualian, atau rukhshah bagi yang teraniaya. Jika perkataan buruk itu atau do’a keburukan disampaikan oleh orang yang teraniaya, maka tidak dibenci lagi oleh-Nya. Secara historis, seperti dikemukakan di atas, sebagai contoh yang diberi keringanan menceritakan aib orang lain, adalah yang dirugikan atau dizhalimi. Hal ini berlaku pula dalam urusan pengadilan agar hakim bisa menetapkan mana yang benar mana pula yang salah, mana yang mesti dihukum mana yang mesti dibela. Menceritakan keburukan orang lain adalah termasuk ghibah, tapi bagi yuang dizhalimi tidak termasuk yang dilarang, karena untuk mendapatkan perlindungan haknya. Al-Nawawi (631-676H), Abu Zakariya Yahya al-Nawawi, Syarh al-Nawawi ala Shahih Muslim, XVI h.142-143, mengungkapkan bahwa ghibah yaitu ada yang diperbolehkan syari’ah antara lain: (1) Orang yang dianiaya atau dizhalimi, atau tidak dipenuhi haknya, kemudian mengadu pada aparat hukum, supaya mendapatkan keadilan. (2) Minta bantuan dalam mencegah kemunkaran. Umpamanya seseorang melihat kawannya berbuat munkar, tapi sulit mencegahnya, maka minta bantuan orang lain yang diperkirakan mampu. (3) Minta fatwa hukum, baik dalam perselisihan, ataupun perbuatan yang diperikarakan buruk, yang memerlukan penjelasan rinci. (4) Memberikan peringatan kepada sesama muslim untuk bersikap waspada terhadap yang suka berbuat buruk, seperti tukang bohong demi menghindari adanya korban penipuan atau pemalsuan. Inilah yang dilakukan oleh para peneliti hadits yang tidak segan-segan mengungkapkan fakta kesalahan atau kelemahan rawi yang dla’if. (5)  Mengungkapkan kejelekan orang yang suka berbuat durhaka secara terang-terangan, seperti pemabuk, pezina, pembunuh. Orang yang merasa bangga dengan kedurhakaan atau kema’shiatannya, tidak perlu ditutupi keburukannya. Allah SWT juga mengungkap keburukan Abu Lahab dan istri nabi Luth. (6) Untuk memberikan petunjuk yang jelas terhadap orang tertentu supaya berbeda dengan yang lainnya. Misalkan di satu kampung terdapat beberapa orang yang namanya sama, maka diperlukan menyebut ciri hasnya, seperti yang tubuh pendek, atau tinggi, atau pesek atau pecak. Bila tidak disebut, umpamnya menyulitkan penentuan suatu kasus atau memberi petunjuk pada yang bertanya. [2]

Ayat ini juga memberi isyarat bahwa do’a yang isinya meminta agar orang lain celaka tidak dibenarkan, kecuali dari orang yang dizhalimi. Do’a orang yang teraniaya, bakal diqabulkan oleh Allah SWT. Rasul SAW bersabda:

وَاتَّقِ دَعْوَةَ الْمَظْلُومِ فَإِنَّهُ لَيْسَ بَيْنَهَا وَبَيْنَ اللَّهِ حِجَابٌ

Takutlah dirimu pada do’a orang yang teraniaya, karena tidak ada penghalang antaranya dengan Allah SWT. Hr. Al-Bukhrai, Muslim.[3]

Redaksi lainnya berbunyi:

وَاتَّقِ دَعْوَةَ الْمَظْلُومِ فَإِنَّ دَعْوَةَ الْمَظْلُومِ مُسْتَجَابَةٌ

Takulah kamu do’a orang yang teraniaya, karena sungguh do’anya akan dikabulkan. Hr. Al-Bukhari.[4]

Kedua hadits ini meupakan jaminan, bahwa do’a orang yang teraniaya bakal dikabulkan oleh Allah SWT. Oleh karena itu mesti waspada jangan sampai dido’akan jelek oleh yang didalimi, maka jangan sampai terlibat menzhalimi orang lain.  Orang teraniaya atau orang yang dizhalimi yaitu orang yang diperlakukan secara tidak benar oleh orang lain. Orang-orang ini tidak mendapatkan hak yang wajib diterimanya. Misalnya, seseorang menagih uangnya kepada orang lain, tetapi yang ditagih ternyata mengingkari hutangnya. Penagih semacam ini termasuk dalam kategori orang yang teraniaya. Seorang buruh menutut gaji kepada majikannya. Oleh majikan gaji tersebut tidak dibayarkan atau dibayar kurang dari seharusnya dia terima. Buruh semacam ini termasuk orang-orang yang teraniaya.  Contoh lain ialah sesorang dituduh melakukan suatu kejahatan, padahal yang bersangkutan sama sekali tidak melakukannya. Ia lalu dijatuhi hukuman. Seorang istri tidak diberi uang belanja oleh suaminya, bahkan disuruh mencari nafkah sendiri. Orang-orang ini termasuk golongan yang teraniaya.  Bilamana orang yang yang teraniaya memohon kepada Allah agar membinasakan penganiayanya, maka do’anya dijanjikan oleh Allah akan dikabulkan. Karena itu, setiap orang mesti takut kepada orang-orang yang teraniaya oleh perbuatan yang dilakukan. Walaupun yang dizhalimi itu tidak mampu membalas kejahatan orang zhalim secara langsung, namun do’a mereka akan menjadi senjata yang ampuh nuntuk menghancurkan penganiaya melalui adzab dan siksa yang diturunkan oleh Allah. Sebuah contoh dalam sejarah yang dikemukakan oleh Allah dalam Al-Qur’an ialah tindakan Fir’aun yang berbuat aniaya dan zhalim kepada kaum Nabi Musa. Walaupun kaum Nabi Musa tidak mampu membalas kezhaliman Fir’aun secara langsung dan bahkan Musa dengan kaumnya dikejar-kejar oleh Fir’aun secara langsung dan bahkan Musa dengan kaumnya dikejar-kejar oleh Fir’aun dan tentaranya untuk dibunuh, namun ternyata allah yang membalas kezhaliman Fir’aun dan tentaranya. Allah menenggelamkan mereka di Laut Merah ketika mengejar Musa dan Kaumnya. Jadi, yang langsung menghancurkan dan menghukum Fir’aun dan pasukannya adalah Allah sendiri. Kejadian ini wajib menjadi pelajaran bagi kita dimana saja dan kapan sajha bahwa orang-orang yang teraniaya dekat dengan Allah. Allah selalu memberikan pembelaan dan pertolongan kepada mereka untuk membalas orang-orang yang menganiayanya.

Orang-orang yang teraniaya tidak perlu berputus asa menghadapi keperkasaan dan kekuatan penganiayanya. Mereka dijanjikan oleh Allah untuk mendapat pembelaan, perlindungan, dan pertolongan guna melawan penganiaya itu. Cara memperoleh jaminan tersebut adalah dengan selalu berdo’a kepada Allah agar para penganiaya itu mendapat adzab dan siksa dari Allah sehingga mereka tidak merajalela berbuat kezhaliman ditengah masyarakat. Karena itu, mereka seharusnya tidak meremehkan senjata do’a sebagai saran melawan kezhaliman orang-orang yang berbuat zhalim, karena permohonan mereka dikabulkan oleh Allah. Sebaliknya, orang-orang yang suka menganiaya seharusnya takut dan berhati-hati menghadapi orang-orang yang teraniaya, karena orang-orang yang teraniaya itu pasti dibela dan dilindungi oleh Allah. Permohonan apa saja untuk penganiayanya akan dikabulkan oleh Allah. Allah tidak rela ada penganiayaan di muka bumi. Dalam hadits qudsi, Allah berfirman إِنِّي حَرَّمْتُ عَلَى نَفْسِي الظُّلْمَ وَعَلَى عِبَادِي فَلَا تَظَالَمُوا “Aku telah mengharamkan kezaliman pada diri-Ku, maka janganlah kalian melakukan kezaliman,” Hr. Muslim.[5]

Rasulullah berpesan:

انْصُرْ أَخَاكَ ظَالِمًا أَوْ مَظْلُومًا قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ هَذَا نَنْصُرُهُ مَظْلُومًا فَكَيْفَ نَنْصُرُهُ ظَالِمًا قَالَ تَأْخُذُ فَوْقَ يَدَيْهِ

 “Tolonglah saudaramu yang menganiaya dan saudaramu yang teraniaya.” Shahabat bertanya, kami faham menolong orang yang teraniaya. Lalu bagaimana menolong orang yang zhalim? Rasul SAW bersabda: hendaklah kalian peggang tangan mereka (mencegah) agar jangan sampai berbuat zhalim lagi. Hr. al-Bukhari.[6]

3. وَكَانَ اللَّهُ سَمِيعًا عَلِيمًا Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.

Pengunci ayat ini merupakan teguran halus pada orang yang berani berbuat pelanggaran tatkala bersembunyi. Sebenarnya mereka akan tetap diketahui Allah SWT yang Maha Mendengar ucapan buruk dan baik walau tersembunyi. Dia juga mengetahui apa yang diperbuat manusia baik dan buruk walau dilakukan secara sembunyi. Allah SWT juga maha tahu siapa yang zhalim siapa pula yang dizhalimi, siapa yang berhak mengungkapkan keburukan siapa pula yang tidak berhak. Oleh karena itu berhati-hatilah dalam bercuap, bersikap dan bertindak.

4. إِنْ تُبْدُوا خَيْرًا أَوْ تُخْفُوهُ Jika kamu menyatakan sesuatu kebaikan atau menyembunyikan

Setelah ayat sebelumnya  mengungkapkan apa yang tidak dicintai Allah, yaitu perkataan buruk, maka pada ayat ini diungkap apa yang dicintai-Nya, yaitu berupa kebaikan. Segala kebaikan dilakukan secara sembunyi maupun terang-terangan tetap dicintai Allah. Ayat ini mempersilakan manusia melakukan kebaikan baik terus terang ataupun tersembunyi. Menyebarkan kata-kata kotor dan buruk sudah jelas tidak disukai oleh Allah. Kalau sekiranya Allah tidak suka penyebaran kata buruk, tentu yang disukai Allah ialah penyebaran kata yang baik, yang sopan, yang bermutu, yang berisi pendidikan.  Namun menyebarkan kata yang baik dan bermanfaat amat berbeda dengan menahan diri dari menyebarkan kata yang buruk.  Menyebar kata yang buruk, di mana pun dan kapan pun tetap dilarang!  Sedangkan menyebarkan kata yang baik, mesti memperhatikan situasi dan kondisi juga.  Kadang-kadang kata yang baik, bermaksud baik, karena tempat atau waktunya tidak tepat, bias saja menghasilkan yang buruk.  Ada pepatah mengatakan, “Apalah harga mutiara bagi seekor anjing.”  lni menandakan bahwa kata-kata yang baik dan bernilaipun hendaklah memilih siruasi dan kondisi yang baik pula.  Di sini terletak kebijaksanaan manusia.  Sebab itu maka di dalam ayat ini disebutkan, إِنْ تُبْدُوا خَيْرًا أَوْ تُخْفُوهُ “Jika kamu memperlihatkan kebaikan atau menyembunyikannya.  Ada kalanya kebajikan itu lebih berfaedah jika disembunyikan, terkadang lebih bermanfaat bila disebarkan.

5. أَوْ تَعْفُوا عَنْ سُوءٍ atau memaafkan sesuatu kesalahan (orang lain), Orang yang dizhalimi boleh melakukan perlawanan terhadap pelakunya yang zhalim seperti ditegaskan pada ayat sebelumnya. Namun demikian memberi maaf pada orang yang bersalah jauh lebih baik dan lebih dicintai Allah. Misalnya ada orang mencaci-maki kita dengan kata-kata yang buruk, dan menghina.  Kemudian menurut pendapat kita hal ini hanya dianggap kecil saja, belum perlu dibawa ke muka hakim.  Kita hendaknya menunjukkan ketinggian mutu budi pekerti, lalu memaafkan pelaku itu, maka sangat dicintai Allah SWT.

6. فَإِنَّ اللَّهَ كَانَ عَفُوًّا قَدِيرًا maka sesungguhnya Allah Maha Pema`af lagi Maha Kuasa

Pengunci ayat ini menunjukkan sifat Allah yang mulia, yaitu Pemaaf padahal amat berkuasa.  Maka Allah menganjurkan kepada orang Mu’min supaya meniru sifat Allah itu.  Sifat pemaaf Allah sebagai عَفُوًّا  dilengkapi dengan قَدِيرًا (yang Maha Kuasa) ini menmgisyaratkan bahwa sifat yang mesti ditiru itu pemaaf walau sedang berkuasa untuk membalasnya.  Artinya jika seseorang memberi maaf bukanlah karena kelemahan, tetapi karena kekuasaan.  Begitulah sifat Allah. inilah hendaknya yang dipegang oleh Mu’min.

E. Beberapa Ibrah

1. Mengungkapkan perkataan buruk atau kotor yang tidak senonoh, sangat tidak dicintai Allah. Oleh karena jauhilah segala keburukan, baik dalam berucap, bersikap maupun bertindak.

2. Allah SWT tidak mencintai penyampaian kata yang buruk, karena menicintai yang baik dan indah. Oleh karena itu pilihlah perkataan yang baik walau sedang berdo’a. Janganlah mendo’akan keburukan.

3. Orang yang teraniaya diberi keringanan untuk mengungkapkan keburukan yang dilakukan oleh penganiayanya. Allah SWT mengabulkan do’a orang teraniaya. Oleh karena itu hendaklah takut pada do’a orang yang teraniaya. Janganlah berani berucap, bersikap dan bertindak zhalim pada siapapun supaya tidak ada yang mendo’akan buruk.

4. Segala yang baik apakah dilakukan secara terang-terang atau secara semubnyi akan tetap mendapat pahala dari Allah SWT. Kapan berterus terang dalam kebaikan, dan kapan pula menyembunyikannya, mesti disesuaikan dengan situasi dan kondisi.

5. Dipersilakan menampakan kebaikan diri dan orang lain, sepanjang tidak menggangu keikhlasan dan diperkirakan bermanfaat pada fihak lain. Namun jika diperkirakan berdampak negatif dari menampakkan perbuatan baik, maka hendajlah memilih unuk menyembunyikannya.

6. Membalas kezhaliman adalah diperbolehkan sepanjang dapat menghentikan kezhaliman atau membela hak. Namun bila memaafkan orang yang bersalah dan bisa lebih mendatangkan kemaslahatan, maka itu jauh lebih baik. Walau di dunia orang zhalim itu tidak dihukum atau tidak dibalas oleh yang dizhalimi, di akhirat kelak Allah SWT akan membalasnya.

7. Bekerjasama dalam memberantas kezhaliman, merupakan sesuatu yang dianjurkan syari’ah. Yang perlu ditolong bukan hanya yang teraniaya, tapi juga yang menganiaya. Menolong orang yang teraniaya adalah memberikan haknya yang telah terganggu. Sedangkan menolong orang yang menganiaya adalah dengan mencegahnya jangan sampai mengulangi kesalahan lagi.

8. Memberi maaf yang meraih kemuliaan bukan tatkala tidak memiliki kemampuan untuk melawan. Justru memberi maaf pada orang yang bersalah adalah tatkala memiliki kekuasaan untuk membalasnya.

9. Pada dasrnya Allah SWT mencintai kebaikan dan membenci keburukan. Oleh karena itu setiap mu`min dituntut mengembangkan kebaikan, apakah dalam ucap sikap, maupun tindakan, bahkan dampaknya dalam segala kehidupan. Kebaikan yang mesti dikembangkan bukan hanya dalam cara, tapi juga dampaknya di hari kemudian.

 


[1] Tafsir Ibn Abi Hatim, Juz 21 h.355

[2] Abu Zakariya Yahya al-Nawawi, Syarh al-Nawawi ala Shahih Muslim, XVI h.142-143

[3] Shahih al-Bukhari, no.1401, no.2268,  Shahih Muslim, I h.111 no 27

[4] Shahih al-Bukhari, no. 2831

[5] Shahih Muslim, no. 4674

[6] Shahih al-Bukhari, no.2264

Sumber :

Iklan

Nasehat Bijak bagi mereka yang lupa dan terlupakan

Nasehat Bijak bagi mereka yang lupa dan terlupakan….Hmmmmm !!

  1. Hai anakku: ketahuilah, sesungguhnya dunia ini bagaikan lautan yang dalam, banyak manusia yang karam ke dalamnya. Bila engkau ingin selamat, agar jangan karam, layarilah lautan itu dengan SAMPAN yang bernama TAKWA, ISInya ialah IMAN dan LAYARnya adalah TAWAKKAL kepada ALLAH.
  2. Orang – orang yg sentiasa menyediakan dirinya untuk menerima nasihat, maka dirinya akan mendapat penjagaan dari ALLAH. Orang yang insyaf dan sadar setalah menerima nasihat orang lain, dia akan sentiasa menerima kemulian dari ALLAH juga.
  3. Hai anakku; orang yang merasa dirinya hina dan rendah diri dalam beribadat dan taat kepada ALLAH, maka dia tawadduk kepada ALLAH, dia akan lebih dekat kepada ALLAH dan selalu berusaha menghindarkan maksiat kepada ALLAH.
  4. Hai anakku; seandainya ibu bapamu marah kepadamu kerana kesilapan yang dilakukanmu, maka marahnya ibu bapamu adalah bagaikan baja bagi tanam tanaman.
  5. Jauhkan dirimu dari berhutang, karena sesungguhnya berhutang itu boleh menjadikan dirimu hina di waktu siang dan gelisah di waktu malam.
  6. Dan selalulah berharap kepada ALLAH tentang sesuatu yang menyebabkan untuk tidak menderhakai ALLAH. Takutlah kepada ALLAH dengan sebenar benar takut ( takwa ), tentulah engkau akan terlepas dari sifat berputus asa dari rahmat ALLAH.
  7. Hai anakku; seorang pendusta akan lekas hilang air mukanya karena tidak dipercayai orang dan seorang yang telah rusak akhlaknya akan sentiasa banyak melamunkan hal hal yang tidak benar. Ketahuilah, memindahkan batu besar dari tempatnya semula itu lebih mudah daripada memberi pengertian kepada orang yang tidak mau mengerti.
  8. Hai anakku; engkau telah merasakan betapa beratnya mengangkat batu besar dan besi yang amat berat, tetapi akan lebih berat lagi daripada semua itu, adalah bilamana engkau mempunyai tetangga yang jahat.
  9. Hai anakku; janganlah engkau mengirimkan orang yg bodoh sebagai utusan. Maka bila tidak ada orang yang cerdik, sebaiknya dirimulah saja yang layak menjadi utusan.
  10. Jauhilah bersifat dusta, sebab dusta itu mudah dilakukan, bagaikan memakan daging burung, padahal sedikit saja berdusta itu telah memberikan akibat yang berbahaya.
  11. Hai anakku; bila engkau mempunyai dua pilihan, takziah orang mati atau hadir majlis perkarwinan, pilihlah untuk menziarahi orang mati, sebab ianya akan mengingatkanmu kepada kampung akhirat sedang kan menghadiri pesta perkarwinan hanya mengingatkan dirimu kepada kesenangan duniawi saja.
  12. Janganlah engkau makan sampai kenyang yang berlebihan, karena sesungguhnya makan yang terlalu kenyang itu adalah lebih baiknya bila makanan itu diberikan kepada anjing saja.
  13. Hai anakku; janganlah engkau langsung menelan saja karena manisnya barang dan janganlah langsung memuntahkan saja pahitnya sesuatu barang itu, kerana manis belum tentu menimbulkan kesegaran dan pahit itu belum tentu menimbulkan kesengsaraan.
  14. Makanlah makananmu bersama sama dengan orang orang yang takwa dan musyawarahlah urusanmu dengan para alim ulama dengan cara meminta nasihat dari mereka.
  15. Hai anakku; bukanlah satu kebaikan namanya bilamana engkau selalu mencari ilmu tetapi engkau tidak pernah mengamalkannya. Hal itu tidak ubah bagaikan orang yg mencari kayu bakar, maka setelah banyak ia tidak mampu memikulnya, padahal ia masih mau menambahkannya.
  16. Hai anakku; bilamana engkau mau mencari kawan sejati, maka ujilah terlebih dahulu dengan berpura pura membuat dia marah. Bilamana dalam kemarahan itu dia masih berusaha menginsyafkan kamu, maka bolehlah engkau mengambil dia sebagai kawan. Bila tidak demikian, maka berhati hatilah.
  17. Selalulah baik tutur kata dan halus budi bahasamu serta manis wajahmu, dengan demikian engkau akan disukai orang melebihi sukanya seseorang terhadap orang lain yang pernah memberikan barang yang berharga.
  18. Hai anakku; bila engkau berteman, tempatkanlah dirimu padanya sebagai orang yang tidak mengharapkan sesuatu daripadanya. Namun biarkanlah dia yang mengharapkan sesuatu darimu.
  19. Jadikanlah dirimu dalam segala tingkah laku sebagai orang yang tidak ingin menerima pujian atau mengharap sanjungan orang lain karena itu adalah sifat riya’ yang akan mendatangkan cela pada dirimu.
  20. Hai anakku; janganlah engkau condong kepada urusan dunia dan hatimu selalu disusahkan olah dunia saja karena engkau diciptakan ALLAH bukanlah untuk dunia saja. Sesungguhnya tiada makhluk yang lebih hina daripada orang yang terpedaya dengan dunianya.
  21. Hai anakku; usahakanlah agar mulutmu jangan mengeluarkan kata kata yang busuk dan kotor serta kasar, karena engkau akan lebih selamat bila berdiam diri. Kalau berbicara, usahakanlah agar bicaramu mendatangkan manfaat bagi orang lain.
  22. Hai anakku; janganlah engkau mudah ketawa kalau bukan karena sesuatu yang menggelikan, janganlah engkau berjalan tanpa tujuan yang pasti, janganlah engkau bertanya sesuatu yang tidak ada guna bagimu, janganlah mensia-siakan hartamu.
  23. Barang siapa yang penyayang tentu akan disayangi, siapa yang pendiam akan selamat daripada berkata yang mengandungi racun, dan siapa yang tidak dapat menahan lidahnya dari berkata kotor tentu akan menyesal.
  24. Hai anakku; bergaullah rapat dengan orang yang alim lagi berilmu. Perhatikanlah kata nasihatnya karena sesungguhnya sejuklah hati ini mendengarkan nasihatnya, hiduplah hati ini dengan cahaya hikmah dari mutiara kata katanya bagaikan tanah yang subur lalu disirami air hujan.
  25. Hai anakku; ambillah harta dunia sekedar keperluanmu saja, dan nafkahkanlah yang selebihnya untuk bekal akhiratmu. Jangan engkau tendang dunia ini ke keranjang atau bakul sampah karena nanti engkau akan menjadi pengemis yang membuat beban orang lain. Sebaliknya janganlah engkau peluk dunia ini serta meneguk habis airnya karena sesungguhnya yang engkau makan dan pakai itu adalah tanah belaka. Janganlah engkau bertemankan dengan orang yang bersifat dua muka, kelak akan membinasakan dirimu.

Sepia Kecerdasan utama

Sebagai mahluk yang mulia ciptaan Tuhan di muka Bumi ini, telah memiliki Sepia 5 kecerdasan utama tersebut (Spiritual, Emotional, Power, Intellectual, Aspiration), namun dalam perjalanan hidupnya ada yang mampu menyeimbangkannya dan mereka inilah tergolong orang orang yang sukses meraih bahagia

Sukses dan bahagia adalah dua hal yang berbeda. Seseorang bisa Sukses tetapi tidak bahagia, Bisa bahagia tetapi tidak sukses  atau sekaligus sukses dan bahagia dan bisa pula tidak sukses dan tidak bahagia.
Sukses tidak menjamin bahagia, terlebih lagi tidak sukses  lebih tidak menjamin bahagia.
Sukses : bila seorang menginginkan sesuatu kemudian ia mendapatkannya , tetapi bila sesuatu didapatkan tanpa diinginkan apakah itu disebut sukses??, jadi sukses adalah pencapaian sesuatu yang di”Ingin”kan
Bahagia : ada perasaan Nyaman, ada Senang, ada Gembira, ada Bahagia. Seseorang tiduran dipantai, badanya terasa nyaman menikmati aliran angin sepoi-sepoi dan bunyi deburan ombak yang menghempas kepasir, rasa hangat dan santai mengalir seluruh tubuhnya, hatinyapun senang dan tentram…apakah ia bahagia??
yang lain sedang melalkukan olah raga arung jeram, berjuang keras mengatasi goncangan arus, energi terkuras dan badan terasa sangat letih, anehnya hati terasa riang dan gembira, apakah dia bahagia???
Seorang merasakan keindahan yang tak terjelaskan, sesuatu yang sangat mengharukan , dihadapannya tersenyum seorang anak dengan kaki yang bengkok yang tiada kuasa menopang tubuh yang mungil itu (terserang polio pada umur 3 tahun) dan saat ini telah terbaring di ranjang selama 5 tahun. Hari ini dengan pemberian kursi roda, anak itu mendapat kesempatan kembali menjelajahi dunia ini.
Oh Tuhan..terima kasih telah Engkau beri aku kesempatan untuk memberi sedikit harapan kepada mahlukmu yang lain
Bahagiakah orang itu??…bahagiakah Anak itu???
Berbeda dengan sukses, bahagia sulit dinilai/ diukur kecuali yang merasakannya.., muncul dengan cara ajaib dan dia subjektif.
Sukses meraih..jabatan, sukses menjadi kaya..sukses menjadi orang dikenal/terkenal..sukses telah lulus ujian..dan lai-lain..tetapi apakah ia berbahagia??…Tidak..karena tujuannya bukan “Bahagia”
Pernakah anda mendengar “Sukses meraih Bahagia”??

Referensi :   http://unyil4u.wordpress.com

Hidupkan Hatimu

Hidupkan Hatimu (diperuntukan bagi mereka yang melampaui batas).

عَنْ مُعَاذِ بْنِ جَبَلٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قُلْتُ يَا رَسُوْلَ اللهِ، أَخْبِرْنِي بِعَمَلٍ يُدْخِلُنِي الْجَنَّةَ وَيُبَاعِدُنِي عَنِ النَّارِ، قَالَ: لَقَدْ سَأَلْتَ عَنْ   عَظِيْمٍ، وَإِنَّهُ لَيَسِيْرٌ عَلىَ مَنْ يَسَّرَهُ اللهُ تَعَالَى عَلَيْهِ: تَعْبُدُ اللهَ لاَ تُشْرِكُ  بِهِ شَيْئاً، وَتُقِيْمُ الصَّلاَةَ، وَتُؤْتِيَ الزَّكَاةَ، وَتَصُوْمُ رَمَضَانَ، وَتَحُجُّ  الْبَيْتَ، ثُمَّ قَالَ: أَلاَ أَدُلُّكَ عَلَى أَبْوَابِ الْخَيْرِ ؟ الصَّوْمُ جُنَّةٌ، وَالصَّدَقَةُ تُطْفِئُ الْخَطِيْئَةَ كَمَا يُطْفِئُ الْمَاءُ النَّارَ، وَصَلاَةُ الرَّجُلِ فِي جَوْفِ   اللَّيْلِ، ثُمَّ قَالَ: { تتجافى جنوبهم عن المضاجع } حتى بلغ { يعملون } [ سورة السجدة / الأيتان: 16 و 17 ] ثُمَّ قَالَ: أَلاَ أُخْبِرُكَ بِرَأْسِ الأَمْرِ وُعَمُوْدِهِ وَذِرْوَةِ سَنَامِهِ ؟ قُلْتُ بَلَى يَا رَسُوْلَ اللهِ قَالَ: رَأْسُ اْلأَمْرِ اْلإِسْلاَمُ وَعَمُوْدُهُ  الصَّلاَةُ وَذِرْوَةُ سَنَامِهِ الْجِهَادُ. ثُمَّ قَالَ: أَلاَ أُخْبِرُكَ بِمَلاَكِ ذَلِكَ كُلِّهِ ؟ فَقُلْتُ: بَلىَ  يَا رَسُوْلَ اللهِ . فَأَخَذَ بِلِسَانِهِ وَقَالِ: كُفَّ  عَلَيْكَ هَذَا. قُلْتُ: يَا نَبِيَّ اللهِ، وَإِنَّا لَمُؤَاخَذُوْنَ بِمَا نَتَكَلَّمَ بِهِ ؟ فَقَالَ: ثَكِلَتْكَ أُمُّكَ، وَهَلْ   يَكُبَّ النَاسُ فِي النَّارِ عَلَى وُجُوْهِهِمْ –أَوْ قَالَ: عَلىَ مَنَاخِرِهِمْ – إِلاَّ حَصَائِدُ أَلْسِنَتِهِمْ.

[رواه الترمذي وقال: حديث حسن صحيح]

 

Dari Mu’adz bin Jabal radhiallahu ‘anhu, ia berkata: Aku berkata: “Ya Rasulullah, beritahukanlah kepadaku suatu amal yang dapat memasukkan aku ke dalam surga dan menjauhkan aku dari neraka”. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Engkau telah bertanya tentang perkara yang besar, dan sesungguhnya itu adalah ringan bagi orang yang digampangkan oleh Allah ta’ala. Engkau menyembah Allah dan jangan menyekutukan sesuatu dengan-Nya, mengerjakan shalat, mengeluarkan zakat, berpuasa pada bulan Ramadhan, dan mengerjakan haji ke Baitullah”. Kemudian beliau bersabda: “Inginkah kuberi petunjuk kepadamu pintu-pintu kebaikan? Puasa itu adalah perisai, shadaqah itu menghapuskan kesalahan sebagaimana air memadamkan api, dan shalat seseorang di tengah malam”. Kemudian beliau membaca ayat: “Tatajaafa junuubuhum ‘an madhaaji’… hingga …ya’maluun“. Kemudian beliau bersabda: “Maukah bila aku beritahukan kepadamu pokok amal tiang-tiangnya dan puncak-puncaknya?” Aku menjawab: “Ya, wahai Rasulullah”. Rasulullah bersabda: “Pokok amal adalah Islam, tiang-tiangnya adalah shalat, dan puncaknya adalah jihad”. Kemudian beliau bersabda: “Maukah kuberitahukan kepadamu tentang kunci semua perkara itu?” Jawabku: “Ya, wahai Rasulullah”. Maka beliau memegang lidahnya dan bersabda: “Jagalah ini”. Aku bertanya: “Wahai Rasulullah, apakah kami dituntut (disiksa) karena apa yang kami katakan?” Maka beliau bersabda: “Semoga engkau selamat. Adakah yang menjadikan orang menyungkurkan mukanya (atau ada yang meriwayatkan batang hidungnya) di dalam neraka, selain ucapan lidah mereka?”

(HR. Tirmidzi, ia berkata: “Hadits ini hasan shahih”)

 

Mutiara Hadist:

  1. Perhatian sahabat yang sangat besar untuk melakukan amal yang dapat memasukkan mereka ke syurga
  2. Amal perbuatan merupakan sebab masuk syurga jika Allah menerimanya dan hal ini tidak bertentangan dengan sabda Rasulullah shallallahu`alaihi wa sallam “Tidak masuk syurga setiap kalian dengan amalnya”. Makna hadits tersebut adalah bahwa amal dengan sendirinya tidak berhak memasukkan seseorang ke syurga selama Allah belum menerimanya dengan karunia-Nya dan Rahmat-Nya
  3. Mentauhidkan Allah dan menunaikan kewajiban adalah sebab masuknya seseorang ke dalam syurga
  4. Shalat sunnah setelah shalat fardhu merupakan sebab kecintaan Allah ta’ala kepada hambanya
  5. Bahaya lisan dan perbuatannya akan dibalas dan bahwa dia mencampakkan seseorang ke neraka karena ucapannya

 

Penjelasan:

Sabda beliau “Engkau telah bertanya tentang perkara yang besar, dan sesungguhnya itu adalah ringan bagi orang yang digampangkan oleh Allah ta’ala”, maksudnya bagi orang yang diberi taufiq oleh Allah kemudian diberi petunjuk untuk beribadah kepada-Nya dengan menjalankan agama secara benar, yaitu menyembah kepada Allah tanpa sedikit pun menyekutukan-Nya dengan yang lain.

Kemudian sabda beliau “mengerjakan shalat”, yaitu melaksanakannya dengan cara dan keadaan paling sempurna. Kemudian beliau menyebutkan syari’at-syari’at Islam yang lain, seperti zakat, puasa dan haji.

Kemudian sabda beliau “inginkah kuberi petunjuk kepadamu pintu-pintu kebaikan? Puasa itu adalah perisai”, maksudnya adalah selain puasa Ramadhan, karena puasa yang wajib telah diterangkan sebelumnya. Jadi, maksudnya ialah banyak berpuasa sunnat. Perisai maksudnya ialah puasa itu menjadi tirai dan penjaga dirimu dari siksa neraka.

Kemudian sabda beliau “shadaqah itu menghapuskan kesalahan”. Maksud shadaqah di sini adalah zakat.

Sabda beliau “shalat seseorang di tengah malam”. Kemudian beliau membaca ayat: “Tatajaafa junuubuhum ‘an madhaaji’… hingga …ya’maluun“ Artinya: “Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya, sedang mereka berdo’a kepada Tuhannya dengan rasa takut dan harap, dan mereka menafkahkan sebagian dari rezki yang kami berikan kepada mereka. Maka suatu jiwa tidak dapat mengetahui apa yang dirahasiakan untuk mereka, yaitu balasan yang menyejukkan mata, sebagai ganjaran dari amal yang telah mereka lakukan”. (QS. As Sajadah 32: 16-17) Maksudnya orang yang shalat tengah malam, dia mengorbankan kenikmatan tidurnya dan lebih mengutamakan shalat karena semata-mata mengharapkan pahala dari Tuhannya, seperti tersebut pada firman-Nya: “Maka suatu jiwa tidak dapat mengetahui apa yang dirahasiakan untuk mereka, yaitu balasan yang menyejukkan mata, sebagai ganjaran dari amal yang telah mereka lakukan”. Dalam beberapa riwayat disebutkan bahwa Allah sangat membanggakan orang-orang yang melakukan shalat malam di saat gelap dengan firman-Nya dalam sebuah Hadits Qudsi: “Lihatlah hamba-hamba-Ku ini. Mereka berdiri shalat di gelap malam saat tidak ada siapa pun melihatnya selain Aku. Aku persaksikan kepada kamu sekalian (para malaikat) sungguh Aku sediakan untuk mereka negeri kehormatan-Ku”.

Sabda beliau: “Maukah kuberitahukan kepadamu tentang kunci semua perkara itu?” Jawabku: “Ya, wahai Rasulullah”. Maka beliau memegang lidahnya dan bersabda: “Jagalah ini”. Aku bertanya: “Wahai Rasulullah, apakah kami dituntut (disiksa) karena apa yang kami katakan?” Maka beliau bersabda: “Semoga engkau selamat. Adakah yang menjadikan orang menyungkurkan mukanya (atau ada yang meriwayatkan batang hidungnya) di dalam neraka, selain ucapan lidah mereka?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengumpamakan perkara ini dengan unta jantan dan Islam dengan kepala unta, sedangkan hewan tidak akan hidup tanpa kepala.

Kemudian sabda beliau “tiang-tiangnya adalah shalat”. Tiang suatu bangunan adalah alat penyangga yang menegakkan bangunan tersebut, karena bangunan tidak akan dapat berdiri tegak tanpa tiang.

Sabdanya “puncaknya adalah jihad”, artinya jihad itu tidak tertandingi oleh amal-amal lainnya, sebagaimana diriwayatkan oleh Abu Hurairah. Ia berkata bahwa ada seseorang lelaki datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu berkata: “Tunjukkan kepadaku amal yang sepadan dengan jihad”. Sabda beliau: “Tidak aku temukan”. Kemudian sabda beliau: “Adakah engkau sanggup masuk ke dalam masjid, lalu kamu melakukan Shalat Lail (tahajjud) tanpa henti dan puasa tanpa berbuka selama seorang mujahid pergi (berperang)?” Orang itu menjawab: “Siapa yang sanggup berbuat begitu!”

Sabdanya: “maukah kuberitahukan kepadamu tentang kunci semua perkara itu?” Jawabku: “Ya, wahai Rasullah”. Maka beliau memegang lidahnya dan bersabda: “Jagalah ini”, maksudnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menggalakkan dia pertama kali untuk berjihad melawan orang kafir, kemudian dialihkan kepada jihad yang lebih besar, yaitu jihad melawan hawa nafsu, menahan perkataan yang menyakitkan atau menimbulkan kerusakan karena sebagian besar manusia masuk neraka karena lidahnya.

Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Semoga engkau selamat. Adakah yang menjadikan orang menyungkurkan mukanya (atau ada yang meriwayatkan batang hidungnya) di dalam neraka, selain ucapan lidah mereka?” Penjelasannya telah ada pada Hadits riwayat Bukhari dan Muslim yang berbunyi: “Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhirat hendaklah ia berkata baik atau diam”.

Demikian juga pada hadits lain disebutkan: “Siapa memberi jaminan kepadaku untuk menjaga apa yang ada di antara kedua bibirnya dan apa yang ada di antara kedua pahanya, maka aku jamin dia masuk surga”

Wallaahu a’lam.

Rayuan Maut Lelaki beristri

Banyak wanita lajang, berkencan tanpa beban dengan pria yang masih terikat tali pernikahan. Saat jatuh cinta, memang terkadang logika tidak berbicara. Jika Anda sedang menjalin hubungan dengan pria yang masih menikah, sebaiknya pikir-pikir lagi untuk melanjutkan hubungan dengannya.
Pasalnya, mau tidak mau Anda akan dianggap sebagai orang ketiga dalam pernikahan. Anda pun harus siap sakit hati karena tidak ada jaminan hubungan ini akan berjalan baik.
Berikut 8 alasan tidak berkencan dengan pria beristri.
Ia tidak ingin membentuk masa depan dengan Anda
Banyak pria yang tidak merasa bahagia dengan pernikahannya kemudian mencari kebahagiannya di luar rumah. Salah satunya adalah dengan berhubungan dengan wanita lain sebagai pelampiasan.
Pria bisa saja berkata ia tidak pernah merasakan kebahagian dalam pernikahannya, dan baru merasakannya saat bersama Anda. Tetapi jangan anggap pernyataannya akan berujung pada komitmen karena ia hanya ingin membahagiakan dirinya sendiri dengan mengkhianati istrinya.

Sekali berselingkuh, mungkin akan berselingkuh lagi
Ketika pernikahan sedang tidak dalam keadaan baik dan ia mengatasinya dengan mendekati Anda. Seharusnya Anda bisa melihat caranya menangani masalah. Yaitu, bukan dengan menyelesaikan masalah tetapi malah mencari masalah baru. Jadi, jika sewaktu-waktu hubungan Anda sedang bermasalah bukan tidak mungkin ia mengatasinya dengan berselingkuh juga.

Hubungan yang melelahkan
Menjalin hubungan dengan pria yang masih beristri sangat melelahkan. Anda harus selalu bertemu dengan bersembunyi-sembunyi. Jangan berharap Anda bisa dengan tenang berjalan bergandengan tangan di tempat umum.

Pria serakah
Pria yang masih terikat pernikahan dan menjalin hubungan dengan wanita lain bisa juga disebut sebagai pria serakah. Ia ingin memiliki segalanya tanpa memikirkan perasaan orang lain. Hal itu merupakan tanda bahwa ia tidak menghargai lembaga pernikahan.

Ia membodohi Anda
Kata-katanya bisa saja sangat membuai dan menjanjikan komitmen yang lebih baik. Tetapi apakah Anda bisa mempercayai seseorang yang telah mengkhianati istrinya ? Cobalah untuk lebih berpikir panjang.

Dampak buruk pada anak-anaknya
Jika ia memiliki anak, hubungan Anda dengannya bisa merusak perkembangan anak-anaknya. Ia bisa kehilangan penghormatan dari anak-anaknya, dan anaknya pun bisa kehilangan sosok ayah.

Tidak ada jaminan
Meskipun ia sudah mengucapkan kata cinta, dan berjanji untuk segera mengakhiri pernikahannya, tidak ada jaminan ia langsung melakukannya. Pertimbangannya bukan hanya Anda tetapi banyak hal jadi jangan harap hal itu akan terealisasi dengan cepat.

Buang- buang waktu
Waktu Anda terlalu berharga untuk dihabiskan bersamanya. Rasa lelah sembunyi, sakit hati, deg-degan akan selalu Anda rasakan selama menjalin hubungan dengannya. Lebih baik mencari pria lain, yang masih lajang dan membangun hubungan lebih sehat.

By Petti Lubis, Mutia Nugraheni VIVAnews – Selasa, Juni 30 VIVAnews –

Baca petuah lainnya  Rahasia Sukses , Komunikasi Sosial , Rayuan Maut Lelaki beristeri

Komunikasi Sosial

Ketrampilan Komunikasi Sosial, Tidak semua orang dapat mengembangkan keterampilan komunikasi sosialnya (keterampilan sosial dalam komunikasi). Jika Anda termasuk hal tersebut diatas, tidak perlu berkecil hati karena keterampilan ini dapat dikembangkan perlahan-lahan dengan latihan.
Mengembangkan Ketrampilan Komunikasi Sosial
Anda harus ketahui bahwa ketrampilan sosial lah yang paling menonjol di perusahaan dimanapun didunia ini. Dan ini selalu saja sesuai dengan budaya perusahaan manapun juga.

Berikut ini kami jelaskan satu persatu ke 7 jalan untuk mengembangkan ketrampilan sosial anda:
Mintalah penjelasan atau petunjuk
Hal ini sangat mudah diucapkan dari pada dilaksanakan.
Kebanyakan kita berpikir kita sudah tahu apa yang orang lain sedang mencoba untuk menjelaskan persoalan atau pekerjaan. Kedua, Anda mungkin asyik dengan pikiran sendiri ketika Atasan menjelaskan tentang cara melakukan tugas tertentu.

Jelaskanlah permasalahannya secara detail
Apakah Anda pernah merasa tidak nyaman saat Anda menghadapi masalah dan harus laporkan kepada atasan?? , kalau demikian anda telah gagal , kalaupun anda laporkannya pasti anda lupa ,memberitau rincian penting penyebab kesalahan .oleh karena itu hindarilah hal tersebut diatas.
Jelaskan sebab dan akibat permasalahan tersebut dan jakinkan kepada diri anda bahwa apa yang anda jelaskan sudah dimengerti oleh atasan.
Dengarkan baik2 petunujuk2 atau apapun yang dikatakan oleh atasan dan yakinkan kepada atasan anda bahwa anda telah mengerti betul akan hal tersebut.
Apakah Anda khawatir bahwa Atasan mungkin berpikir Anda tidak kompeten untuk menangani permasalahan tersebut??, Perasaan ini pasti timbul. Namun, Anda masih perlu menjelaskan masalah ini ke Atasan. Masalahnya terletak pada istilah ‘menjelaskan‘ dan bukan ‘mengeluh‘. Untuk menjelaskan secara efektif, perhatikan:
Volume suara Anda dan nada. tidak boleh terlalu lembut, atau keras melengking. Berilah hormat apa adanya, Jauhkan emosimu. Jadi tenang. Anda mungkin kecewa oleh masalah tersebut, namun kekecewaan Anda tidak diketahui oleh atasan.~ Jangan lupa menjelaskan semua fakta-fakta masalah. Cobalah untuk menemukan sebagian besar jawaban Anda sendiri sebelum Anda melaporkannya kepada atasan. Kemudian tawarkanlah suatu solusi. Atasan anda akan menghargai suatu inisiatif.

Meminta bantuan
Pada suatu waktu dalam pekerjaan keseharian kita , ada hal tertentu yang sangat rumit dan biasa membuat stres , tetapi anda tidak meminta bantuan karena takut bahwa anda mungkin akan dianggap tidak kompeten.
Tidak ada seorangpun yang serba tau. Semua orang saling membutuhkan, Bekerja dengan dua kepala lebih baik dari satu kepala, Bekerja dengan 4 tangan lebih baik dari 2 tangan, Menyenangkan sekali menjadi orang penting tetapi lebih penting lagi menjadi orang yang menyenangkan orang lain dan membantu orang lain, karena pada suatu waktu, akan membantu Anda
Memberi bantuan akan membangun sistem yang kuat di mana Anda dapat bergantung bila Anda memerlukan bantuan.

Menerima Kritikan
Adalah wajar menjadi defensif ketika mendengar hal-hal negatif tentang diri kita sendiri. Tetapi kalau anda menonjokan defensifnya , anda akan dianggap tdk jujur menerima keritikan.Bila Anda mempunyai suartu tanggung jawab yang harus diselesaikan dan Anda tahu bahwa Anda tidak melakukannya sendiri, maka Anda harus cukup rendah hati untuk berterima kasih yang membantu anda. Temukanlah orang-orang yang menangani tugas tertentu yang lebih baik dari pada yang lain dan meminta mereka untuk membantu Anda jika mereka memiliki waktu. Mereka mungkin akan senang untuk membantu. Selain itu, ingatlah: kemungkinan untuk orang lain dapat melihat hal-hal kekurangan tentang Anda yang Anda bahkan mungkin tidak menyadarinya.
Suatu kenyataan bahwa seseorang telah mengambil risiko untuk memberikan tanggapan/ kritikan tentang diri Anda.

Memberikan kritik yang konstruktif
Bukalah fikiran anda untuk mencari ide-ide baru dan cara-cara baru .jangan sekali-kali kritikan berdasarkan anggapan pribadi anda karena persepsi orang lain tidaklah sama dengan anda. Jangan ragu untuk menerima atau menolak semua atau bagian dari informasi , jelaskanlah pilihan Anda. Hindarilah kata 2 kritkan “Tidak perlu seperti itu”.
Ada dua jenis kritik – konstruktif dan destruktif. Kritik yang menghina atau merendahkan orang lain itu adalah kritikan yang merusak walaupun tujuannya baik
Cara Memberikan kritik konstruktif dan melihat bahwa itu diterima dengan baik adalah suatu seni tersendiri.

Terimalah penghargaan yang diberikan
Senyum dan ekspresikan kebahagian karena anda telah diberikan penghargaan atau penghormatan terhadap apa yang anda telah lakukan, walaupun sebenarnya anda tidak membutuhkannya. Jauhkanlah tingkah laku merendahkan diri..namun jangan juga tampak sombong. Banyak dari kita sangat hati-hati atau malu bila seseorang memberikan penghargaan ,Mengapa? Apakah kita berpikir Anda tidak pantas ? kalau jawabanya ya itu berarti bahwa anda tidak pantas untuk mereka? .Apapun itu, sekarang saatnya untuk mendapatkan lebih dari itu. Sekali lagi senyumlah dan terima kasih kepada orang untuk pujian. Ekspresikan kebahagiaanmu.

Berilah penghormatan atau penghargaan
Janganlah pernah merasa direndahkan  dengan member penghargaan kepada orang yang mempunyai sesuatu yang negatif tentang dirinya. Jangan pula sombong member pujian. Saya sangat sering mendengar orang berkata, “Dia itu berhasil dalam pekerjaannya tetapi, jika kita beri penghargaan atau penghormatan , dia itu nanti besar kepala”
Ini tidak akan terjadi apabila pemberian penghargaan tersebut secara wajar, gunakan bahasa sederhana. Tersenyum dan melihat pada matanya. Sampaikanlah kata kata yang lembut.

Jaringan sosial yang baik akan membantu Anda dalam pekerjaan anda…apabila pekerjaan anda kurang berhasil berarti anda kurang memperhatikan untuk membangun jaringan sosial  yang baik.

[Referensi http://www.wattpad.com/159102-Keterampilan-Sosial %5D

Baca petuah lainnya  Rahasia Sukses , Komunikasi Sosial , Rayuan Maut Lelaki beristeri

Rahasia Sukses

Rahasia Sukses, 9 (sembilan) rahasia untuk meraih sukses

  1. Sukses adalah ridho Allah , jadi jangan pernah menyerah untuk meraih sukses yang telah sediakanNya .
  2. Sukkses butuh campur tangan Tuhan karena masa depan kita ada di tanganNya lalu berrsabarlah dan jangan pernah berhenti berharap
  3. Sukses tidak datang begitu saja, tidak hanya dengan berdoa tetapi disertai dengan bekerja dan disempurnakan oleh doa.
  4. Sukses selalu diawali dengan belajar, dan  jangan pernah menyerah selama proses belajar itu.
  5. Sukses butuh perjuangan, kerja keras, kerajinan & ketekunan. tidak mengeluh tapi berusaha selalu untuk memperbaiki keadaannya.
  6. Sukses butuh kecekatan kerja, selagi ada kesempatan manfaatkanlah waktu yang ada
  7. Sukses bukanlah hal monopili, tapi menjadi hak setiap orang yang mau berjuang untuk mendapatkannya.
  8. Sukses diawali dari mimpi, hasrat dan harapan ,kemudian bertindak, walaupun itu hanya sebuah tindakan kecil !
  9. Sukses selalu membutuhkan waktu, cara, dan jalan yang mungkin berbeda, jadi jangan iri dengan kesuksesan orang lain .

Baca petuah lainnya  Rahasia Sukses , Komunikasi Sosial , Rayuan Maut Lelaki beristeri